Isi Artikel Utama

Abstrak

Penelitian ini bertujuan mengembangkan pembelajaran seni rupa dua dimensi berbasis kearifan lokal Batik Bunga Melati Merangin Jambi sebagai sumber belajar kontekstual di sekolah dasar. Masalah penelitian berangkat dari terbatasnya pemanfaatan budaya lokal dalam pembelajaran seni rupa. Metode yang digunakan adalah Research and Development model ADDIE yang meliputi analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Produk dikembangkan dalam bentuk modul ajar, bahan ajar, media visual motif batik, LKPD, dan rubrik penilaian. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa motif Batik Bunga Melati dapat digunakan untuk mengenalkan unsur garis, bidang, warna, pola, dan komposisi sekaligus menumbuhkan kreativitas, apresiasi budaya, dan karakter cinta tanah air.

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Hastuti, P., Ramadhani, P., & Ramawati, D. I. (2026). PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN SENI RUPA DUA DIMENSI BERBASIS KEARIFAN LOKAL BATIK BUNGA MELATI MERANGIN JAMBI. Grata : Jurnal Inovasi Pendidikan, 3(2), 188–196. Diambil dari https://ejournal.mejailmiah.com/index.php/grata/article/view/441
Referensi

Borg, W. R., & Gall, M. D. (1983). Educational research: An introduction (4th ed.). Longman.

Branch, R. M. (2009). Instructional design: The ADDIE approach. Springer.

Cahyadi, R. A. H. (2019). Pengembangan bahan ajar berbasis ADDIE model. Halaqa: Islamic Education Journal, 3(1), 35-42.

Fajarini, U. (2014). Peranan kearifan lokal dalam pendidikan karakter. Sosio Didaktika: Social Science Education Journal, 1(2), 123-130.

Huda, M. (2013). Model-model pengajaran dan pembelajaran: Isu-isu metodis dan paradigmatis. Pustaka Pelajar.

Kementerian Pendidikan Nasional. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kemendiknas.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Panduan pembelajaran dan asesmen pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan menengah. Kemendikbudristek.

Koentjaraningrat. (2015). Pengantar ilmu antropologi. Rineka Cipta.

Mulyasa, E. (2021). Menjadi guru penggerak merdeka belajar. Bumi Aksara.

Nurcahyanti, D., & Affanti, T. B. (2018). Pengembangan desain batik kontemporer berbasis potensi daerah dan kearifan lokal. Jurnal Sosioteknologi, 17(3), 391-402.

Pemerintah Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Sekretariat Negara.

Prastowo, A. (2015). Panduan kreatif membuat bahan ajar inovatif. DIVA Press.

Rachmadyanti, P. (2017). Penguatan pendidikan karakter bagi siswa sekolah dasar melalui kearifan lokal. JPSD: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar, 3(2), 201-214.

Rohidi, T. R. (2011). Metodologi penelitian seni. Cipta Prima Nusantara.

Sedyawati, E. (2014). Kebudayaan di Nusantara: Dari keris, tor-tor, sampai industri budaya. Komunitas Bambu.

Soedarso, S. P. (2006). Trilogi seni: Penciptaan, eksistensi, dan kegunaan seni. BP ISI Yogyakarta.

Soeroto, M. (1992). Batik: Tinjauan seni dan budaya. Balai Pustaka.

Soetedja, Z. S., Nuryadin, E., & Liliweri, A. (2016). Seni budaya untuk SMA/MA/SMK/MAK kelas X. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sugiyono. (2020). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.

Sumardjo, J. (2000). Filsafat seni. Institut Teknologi Bandung.

Tilaar, H. A. R. (2012). Pendidikan, kebudayaan, dan masyarakat madani Indonesia. Remaja Rosdakarya.

Tomlinson, C. A. (2014). The differentiated classroom: Responding to the needs of all learners (2nd ed.). ASCD.

UNESCO. (2009). Indonesian batik. Intangible Cultural Heritage. https://ich.unesco.org/en/RL/indonesian-batik-00170

1 2 3 4 > >> 

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.