PERAN MOTIF BATIK PUCUK PAKIS MUARO KARING DALAM PELESTARIAN KEARIFAN LOKAL
Isi Artikel Utama
Abstrak
Penelitian ini mengkaji peran motif batik pucuk pakis Muaro Karing dalam pelestarian kearifan lokal. Kajian ini penting karena motif batik daerah tidak hanya berfungsi sebagai ragam hias, tetapi juga sebagai media penyampai identitas, pengetahuan lokal, dan nilai budaya masyarakat. Muaro Karing memiliki kekayaan alam yang kuat, terutama melalui situs fosil daun, aliran sungai, air terjun bertingkat, dan jejak geologi yang berkaitan dengan kawasan Geopark Merangin. Kondisi tersebut memberi dasar konseptual bagi pengembangan motif pucuk pakis sebagai bentuk visual yang dekat dengan alam. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan estetika, semiotika, dan kearifan lokal. Data diperoleh dari artikel jurnal, sumber resmi tentang Muara Karing, kajian batik, kajian motif pakis, dan kajian pelestarian budaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa motif pucuk pakis dapat dimaknai sebagai simbol pertumbuhan, daya hidup, kelenturan, regenerasi, dan hubungan manusia dengan lingkungan. Dalam konteks Muaro Karing, motif ini berperan sebagai media penguatan identitas lokal, sarana edukasi budaya, penghubung antara alam dan karya seni, serta peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis daerah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa motif batik pucuk pakis Muaro Karing memiliki potensi penting sebagai strategi pelestarian kearifan lokal melalui bahasa visual yang estetis, simbolik, edukatif, dan adaptif.
Rincian Artikel
Terbitan
Bagian

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Cara Mengutip
Referensi
Amalia, D., Rosdiana, A., Al Azizi, N., & Wulandari, A. (2024). Semiotika batik Jepara sebagai bentuk identitas budaya lokal masyarakat Jepara. Entita: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu-Ilmu Sosial, 6(1), 1 sampai 14. DOI: 10.19105/ejpis.v6i1.12169
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (n.d.). Situs Fosil Daun Muara Karing. GeoHeritage, Geologi Indonesia.
Geopark Merangin Jambi. (2025). Fosil Daun Muara Karing. Badan Pengelola Geopark Merangin Jambi.
Isabel, V., Sulistyawati, D., & Meliana, S. (2023). Motif dekoratif pakis Dayak pada perancangan ruang baca Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Mezanin, 6(1), 57 sampai 64.
Maziyah, S., Alamsyah, A., & Supriyono, A. (2020). Perkembangan motif batik Jepara tahun 2008 sampai 2019: Identitas baru Jepara berbasis kearifan lokal. Jurnal Sejarah Citra Lekha, 5(1), 45 sampai 56. DOI: 10.14710/jscl.v5i1.28360
Muhajirin, M., & Khoirunisa, A. Z. (2022). Semiotika batik motif Weton Indonesia karya Omah Kreatif Dongaji dengan pendekatan Charles S. Peirce. Sungging: Journal of Innovative, Cultural, Transdisciplinary Art and Kriya Discourse, 1(2), 147 sampai 158. DOI: 10.21831/sungging.v1i2.55029
Nurcahyanti, D., Sachari, A., & Destiarmand, A. H. (2020). Peran kearifan lokal masyarakat Jawa untuk melestarikan batik tradisi di Girilayu, Karanganyar, Indonesia. Mudra Jurnal Seni Budaya, 35(2), 145 sampai 153. DOI: 10.31091/mudra.v35i2.816
Ropiah, O., Indrayani, L. M., Muhtadin, T., & Yuliawati, S. (2022). Semiotika batik Paseban Kabupaten Kuningan. Indonesian Language Education and Literature, 7(2), 358 sampai 369. DOI: 10.24235/ileal.v7i2.9090
Salma, I. R. (2021). Pengembangan motif batik Jepara berbasis budaya lokal. Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah, 38(1), 55 sampai 64. DOI: 10.22322/dkb.v38i1.6316
UNESCO. (2009). Indonesian batik. Intangible Cultural Heritage.
Zulkipli, Z., Aji, Y. A., & Suharto, D. (2022). Keluk: Kelembutan dan kekuatan desain motif pucuk pakis sebagai tema karya tari. Joged, 20(2).