Isi Artikel Utama

Abstrak

Salah satu jenis warisan budaya daerah yang memiliki nilai estetika dan mencerminkan filosofi khas masyarakat Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, adalah seni visual sulur bunga Merangin. Motif sulur bunga dapat diwujudkan dalam berbagai media seni visual, seperti lukisan dua dimensi, selain ukiran tradisional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan bagaimana motif lukisan dua dimensi diubah menjadi bentuk ukiran dalam seni visual sulur bunga Merangin serta untuk menentukan nilai visual yang tetap terjaga sepanjang proses tersebut. Pendekatan kualitatif terhadap penciptaan seni adalah metodologi penelitian yang digunakan (penelitian berbasis praktik). Observasi, dokumentasi, tinjauan pustaka, dan penyelidikan visual terhadap tema sulur bunga Merangin digunakan sebagai metode pengumpulan data. Desain pola ukiran, proses pembentukan ukiran, analisis motif pada lukisan dua dimensi, dan penilaian karya semuanya termasuk dalam tahapan penelitian. Temuan studi menunjukkan bahwa ciri visual utama, seperti garis melengkung, pola sulur, dan elemen ornamen khas Merangin, dapat dipertahankan ketika motif dari media lukisan dua dimensi diubah menjadi bentuk ukiran. Proses transformasi juga menghasilkan dimensi ruang, tekstur, dan nilai estetika yang lebih kuat. Baik pelestarian seni visual tradisional maupun kemajuan budaya lokal Merangin merupakan manfaat yang diharapkan dari perkembangan ini.

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Adelia Yensi Putri, Sari, F. M., Khairani Desita Ningsih, & Wardatul Jannah. (2026). TRANSFORMASI MOTIF LUKISAN DUA DIMENSI KE BENTUK UKIRAN PADA SENI RUPA SULUR BUNGA MERANGIN. Grata : Jurnal Inovasi Pendidikan, 3(2), 496–502. Diambil dari https://ejournal.mejailmiah.com/index.php/grata/article/view/501
Referensi

Amri, M. A., & Priyatno, A. (2024). Analisis motif ornamen pada kain tenun songket khas Melayu Desa Bandar Khalipah Kecamatan Percut Sei Tuan. Misterius: Publikasi Ilmu Seni dan Desain Komunikasi Visual, 2(1), 11–20.

Dharsono. (2017). Kritik seni. Rekayasa Sains.

Feldman, E. B. (1991). Varieties of visual experience (4th ed.). Harry N. Abrams.

Gustami, S. P. (2008). Nukilan seni ornamen Indonesia. Jurusan Kriya Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta.

Marianto, M. D. (2017). Art and levitation: Seni dalam cakrawala quantum. Pohon Cahaya.

Moleong, L. J. (2018). Metodologi penelitian kualitatif (Edisi revisi). PT Remaja Rosdakarya.

Panmayu, Z., & Mirwa, T. (2022). Penerapan ornamen Melayu Deli pada light box dengan teknik paper cutting. Gestus: Jurnal Seni Rupa dan Desain, 1(2), 80–89.

Piliang, Y. A. (2018). Dunia yang dilipat: Tamasya melampaui batas-batas kebudayaan. Cantrik Pustaka.

Rizali, M., & Azmi. (2016). Analisis kain songket Melayu Langkat ditinjau dari bentuk ornamen, warna, makna simbol dan nilai estetika. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 5(2), 1–10.

Rohidi, T. R. (2011). Metodologi penelitian seni. Cipta Prima Nusantara.

Sachari, A. (2007). Budaya visual Indonesia: Membaca makna perkembangan gaya visual karya desain di Indonesia abad ke-20. Erlangga.

Soedarso, S. P. (2006). Trilogi seni: Penciptaan, eksistensi, dan kegunaan seni. BP ISI Yogyakarta.

Sugiyono. (2022). Metode penelitian kualitatif. Alfabeta.

Sunaryo, A. (2009). Ornamen Nusantara: Kajian khusus tentang ornamen Indonesia. Dahara Prize.

Winarno, I. A. (2017). Analisis motif kain tradisional Indonesia: Pemaknaan visualisasi abstrak hingga naturalis. Jurnal Budaya Nusantara, 1(1), 89–102.

Yusuf, A. M. (2017). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan penelitian gabungan. Kencana.

Artikel paling banyak dibaca berdasarkan penulis yang sama

1 2 3 4 5 6 7 8 9 > >> 

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.