Grata : Jurnal Inovasi Pendidikan Volume 3 Nomor 2, diterbitkan pada bulan Januari 2026 oleh PT Meja Ilmiah Publikasi dengan nama “Grata”. Grata diterbitkan dua kali setahun pada bulan Januari dan Juli dengan versi online. Grata merupakan wadah untuk mempublikasikan hasil-hasil penelitian dan temuan teori-teori terkini mengenai perkembangan ilmu pendidikan di Indonesia pada khususnya. Jurnal ini memuat artikel-artikel terkait Pendidikan Ekonomi pada khususnya serta Ilmu Pendidikan dan inovasi pembelajaran pada umumnya.
Published: 2026-07-04
Articles
RANCANGAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DENGAN METODE PBL PADA MATERI PEMBELAJARAN MENULIS CERITA PENDEK SISWA SD
1-6
Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pendekatan yang menyesuaikan proses pembelajaran dengan kebutuhan, minat, dan karakteristik peserta didik sehingga mampu meningkatkan efektivitas belajar. Dalam Kurikulum Merdeka, pendekatan ini dipadukan dengan model Problem Based Learning (PBL) yang menekankan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berdiferensiasi dengan model PBL pada pembelajaran Bahasa Indonesia materi menulis cerita pendek. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran telah dilaksanakan sesuai dengan RPP, model PBL mampu meningkatkan keaktifan, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis siswa, serta media gambar animasi membantu siswa menyusun cerita secara runtut.
PERAN MOTIF BATIK PUCUK PAKIS MUARO KARING DALAM PELESTARIAN KEARIFAN LOKAL
745-757
Penelitian ini mengkaji peran motif batik pucuk pakis Muaro Karing dalam pelestarian kearifan lokal. Kajian ini penting karena motif batik daerah tidak hanya berfungsi sebagai ragam hias, tetapi juga sebagai media penyampai identitas, pengetahuan lokal, dan nilai budaya masyarakat. Muaro Karing memiliki kekayaan alam yang kuat, terutama melalui situs fosil daun, aliran sungai, air terjun bertingkat, dan jejak geologi yang berkaitan dengan kawasan Geopark Merangin. Kondisi tersebut memberi dasar konseptual bagi pengembangan motif pucuk pakis sebagai bentuk visual yang dekat dengan alam. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan estetika, semiotika, dan kearifan lokal. Data diperoleh dari artikel jurnal, sumber resmi tentang Muara Karing, kajian batik, kajian motif pakis, dan kajian pelestarian budaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa motif pucuk pakis dapat dimaknai sebagai simbol pertumbuhan, daya hidup, kelenturan, regenerasi, dan hubungan manusia dengan lingkungan. Dalam konteks Muaro Karing, motif ini berperan sebagai media penguatan identitas lokal, sarana edukasi budaya, penghubung antara alam dan karya seni, serta peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis daerah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa motif batik pucuk pakis Muaro Karing memiliki potensi penting sebagai strategi pelestarian kearifan lokal melalui bahasa visual yang estetis, simbolik, edukatif, dan adaptif.
RANCANGAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI PADA MODEL COOPERATIVE LEARNING DI SD 197 DESA SEKAMIS
758-766
Pembelajaran di sekolah dasar perlu dirancang sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik yang beragam. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan rancangan pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi pada model cooperative learning di SD 197 Desa Sekamis. Metode yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif berbasis studi pustaka dan perancangan perangkat pembelajaran. Data konseptual diperoleh dari kajian artikel ilmiah terkait pembelajaran berdiferensiasi, cooperative learning, Kurikulum Merdeka, IPAS sekolah dasar, serta rancangan RPP yang disusun pada materi kerja sama dan gotong royong kelas IV. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat diterapkan melalui diferensiasi konten, proses, dan produk. Model cooperative learning mendukung penerapan tersebut karena memberi ruang bagi siswa untuk belajar dalam kelompok heterogen, berdiskusi, saling membantu, dan mempresentasikan hasil kerja. Rancangan pembelajaran yang disusun meliputi identitas pembelajaran, capaian pembelajaran, tujuan, profil Pelajar Pancasila, sarana, materi, langkah pembelajaran, LKPD, penilaian, dan refleksi. Rancangan ini diharapkan mampu meningkatkan keaktifan, kerja sama, tanggung jawab, dan pemahaman siswa dalam pembelajaran IPAS
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI PADA MODEL PROJECT BASED LEARNING MATERI TARI ZAPIN MELAYU DI SDN 114/VI BANGKO VII
7-11
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi berbasis Project Based Learning (PjBL) pada materi Tari Zapin Melayu di kelas V SDN 114/VI Bangko VII. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi partisipatif dan dokumentasi. Diferensiasi dilakukan pada konten, proses, dan produk melalui demonstrasi gerak, latihan kelompok bertingkat, serta proyek pentas mini. Hasil observasi menunjukkan bahwa PjBL berdiferensiasi meningkatkan keaktifan, kerja sama, keberanian bertanya, dan rasa percaya diri siswa. Kendala berupa perbedaan kemampuan, keterbatasan waktu, dan kurang percaya diri diatasi melalui bimbingan guru, pembagian kelompok merata, serta pengelolaan kegiatan yang terarah.
Pembelajaran Berbasis Diferensiasi Model Problem Based Learning (PBL) pada Materi Ilmu Pengetahuan Sosial di SD 280/VI Bangko Kelas V
12-16
Pembelajaran abad ke-21 menuntut pembelajaran yang berpusat pada siswa dan mampu mengakomodasi keberagaman kesiapan, minat, serta gaya belajar. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perencanaan pembelajaran berbasis diferensiasi yang terintegrasi dengan model Problem Based Learning (PBL) dalam RPP IPS kelas V di SDN 280/VI Bangko. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RPP telah memuat diferensiasi konten, proses, dan produk melalui poster, esai, serta bermain peran bertema lingkungan sekitar. Integrasi pembelajaran berdiferensiasi dan PBL mendorong keterlibatan siswa, kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, serta pembelajaran yang inklusif dan kontekstual.
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI PADA MODEL INQUIRY LEARNING MATERI SIFAT-SIFAT BENDA DI SDN 186 LUBUK GAUNG
17-21
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi dengan model Inquiry Learning pada materi sifat-sifat benda di kelas V SDN 186 Lubuk Gaung. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi langsung dan dokumentasi. Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan benda konkret berupa batu, air, balon, botol, gelas, LKPD, dan alat tulis. Hasil observasi menunjukkan bahwa siswa mampu membedakan sifat benda padat, cair, dan gas melalui pengamatan langsung. Benda padat memiliki bentuk dan volume tetap, benda cair mengikuti bentuk wadah dan dapat mengalir, sedangkan benda gas mengisi ruang serta bentuknya berubah-ubah. Penerapan Inquiry Learning yang dipadukan dengan diferensiasi proses dan produk membuat siswa lebih aktif, tertarik, dan mampu menyampaikan hasil pengamatan sesuai kemampuan masing-masing.
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN SENI RUPA DUA DIMENSI BERBASIS KEARIFAN LOKAL PADA UKIRAN MENSINDING RUMAH TUO RANTAU PANJANG
22-29
Penelitian ini bertujuan mengembangkan rancangan pembelajaran seni rupa dua dimensi berbasis kearifan lokal sebagai alternatif pembelajaran yang kontekstual, kreatif, dan bermakna bagi peserta didik. Latar belakang kajian ini adalah masih ditemukannya pembelajaran seni rupa yang cenderung menekankan peniruan contoh, produk akhir, dan keterampilan teknis, sementara potensi budaya lokal belum digunakan secara sistematis sebagai sumber gagasan visual. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka kualitatif dengan sintesis konseptual terhadap sepuluh artikel jurnal Indonesia terbitan 2021-2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembelajaran seni rupa dua dimensi berbasis kearifan lokal dapat dikembangkan melalui lima tahap, yaitu orientasi budaya lokal, eksplorasi unsur rupa, perancangan karya, produksi karya, serta apresiasi dan refleksi nilai. Model ini berpotensi meningkatkan kreativitas visual, apresiasi budaya, keberanian berekspresi, dan keterhubungan siswa dengan lingkungan sosial-budayanya.
UPAYA MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA SD PADA MATA PELAJARAN IPS
30-36
Minat belajar siswa SD pada mata pelajaran IPS masih rendah karena materi sering dianggap hafalan dan kurang dekat dengan pengalaman siswa. Artikel ini bertujuan merumuskan upaya peningkatan minat belajar IPS berdasarkan sintesis penelitian Indonesia lima tahun terakhir. Metode yang digunakan adalah studi pustaka deskriptif-kualitatif terhadap sepuluh artikel jurnal nasional periode 2022-2025. Data dianalisis melalui reduksi, pengodean tema, perbandingan temuan, dan sintesis konseptual. Hasil kajian menunjukkan bahwa minat belajar IPS dapat ditingkatkan melalui konteks kehidupan siswa, media visual-audiovisual, video animasi, aplikasi digital, gamifikasi, dan model inquiry. Strategi REAKTIF direkomendasikan sebagai rancangan pembelajaran IPS yang relevan, eksploratif, aktif, kontekstual, teknologis, inspiratif, dan reflektif.
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN SENI RUPA DUA DIMENSI BERBASIS KEARIFAN LOKAL MOTIF KELUK PAKU
37-42
Pembelajaran seni rupa dua dimensi perlu dikembangkan secara kontekstual melalui budaya lokal. Penelitian ini bertujuan mengembangkan pembelajaran seni rupa 2D berbasis motif Keluk Paku sebagai sumber eksplorasi bentuk, komposisi, dan makna. Metode yang digunakan adalah Research and Development dengan model ADDIE yang meliputi analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Subjek penelitian berjumlah 25 mahasiswa semester IV Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Merangin. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, wawancara, angket, dan tes praktik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif Keluk Paku memuat nilai estetika, perlindungan, tanggung jawab sosial, dan semangat menuntut ilmu. Implementasi pembelajaran menghasilkan respons positif sebesar 88% dan nilai praktik rata-rata 85,6. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis motif Keluk Paku layak digunakan untuk meningkatkan kreativitas sekaligus melestarikan budaya lokal.
PENERAPAN MODEL PROJECT BASED LEARNING (PjBL) BERDIFERENSIASI PADA PEMBELAJARAN KEBERAGAMAN BUDAYA INDONESIA DI SDN 114/VI BANGKO
43-53
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan model Project Based Learning (PjBL) berdiferensiasi pada pembelajaran keberagaman budaya Indonesia di kelas IV A SDN 114/VI Bangko. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi partisipatif, dokumentasi, dan catatan lapangan terhadap 25 peserta didik. Proyek pembelajaran berupa kegiatan mewarnai gambar rumah adat Indonesia pada muatan Pendidikan Pancasila dan IPAS. Data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan berdasarkan fase PjBL serta indikator diferensiasi konten, proses, produk, dan lingkungan belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran terlaksana melalui enam fase PjBL dan mampu meningkatkan keaktifan, kerja sama, tanggung jawab, kreativitas, serta pemahaman siswa terhadap keberagaman rumah adat Indonesia. Kendala yang muncul adalah keterbatasan waktu, perbedaan kecepatan kerja kelompok, dan perlunya penguatan konsep budaya.
PENERAPAN MODEL INQUIRY LEARNING PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MANUSIA DI SEKOLAH DASAR
54-59
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan model Inquiry Learning berbantuan alat peraga dan Lembar Kerja Siswa (LKS) pada pembelajaran IPA materi sistem pencernaan manusia di kelas V SDN 042/VI Rantau Alai. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi langsung, dokumentasi, dan telaah perangkat pembelajaran. Subjek kegiatan adalah 11 siswa kelas V pada pembelajaran berdurasi 2 x 35 menit. Hasil observasi menunjukkan bahwa tahapan Inquiry Learning terlaksana secara runtut melalui apersepsi, pengamatan alat peraga, perumusan masalah, pengerjaan LKS, pengujian dugaan, dan penarikan kesimpulan. Alat peraga membantu mengonkretkan konsep organ pencernaan, sedangkan LKS membantu siswa mengurutkan proses pencernaan. Siswa tampak antusias, aktif menjawab pertanyaan, dan terlibat dalam diskusi. Kendala utama terdapat pada keterbatasan waktu dan belum meratanya keberanian siswa berpendapat.
PENERAPAN PROJECT BASED LEARNING BERDIFERENSIASI BERBASIS SLOGAN PADA TEMA KEBERSIHAN LINGKUNGAN SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR
60-65
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan Project Based Learning (PjBL) berdiferensiasi berbasis slogan pada tema kebersihan lingkungan sekolah di kelas V SDN 213/VI Biuku Tanjung. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi, dokumentasi, dan telaah rancangan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan pada mata pelajaran IPAS dengan proyek menyusun slogan kebersihan berdasarkan media gambar lingkungan bersih dan kotor. Hasil observasi menunjukkan bahwa pembelajaran berjalan interaktif dan menyenangkan. Siswa bekerja dalam kelompok kecil, menyusun slogan, menempelkan potongan kata pada gambar, serta mempresentasikan makna slogan di depan kelas. Media gambar membantu siswa membedakan lingkungan bersih dan kotor, sedangkan proyek slogan mendorong kerja sama, keberanian, dan kepedulian terhadap kebersihan sekolah. Kendala yang ditemukan adalah keterbatasan media, waktu proyek yang relatif singkat, dan beberapa siswa masih membutuhkan bimbingan lebih intensif.
PENGEMBANGAN E-MODUL PEMBELAJARAN SENI RUPA BERBASIS KEARIFAN LOKAL AIR TERJUN DUKUN BETUAH JANGKAT
66-72
Penelitian ini bertujuan mengembangkan E-Modul pembelajaran seni rupa berbasis kearifan lokal Air Terjun Dukun Betuah, Jangkat, Kabupaten Merangin. Pengembangan dilatarbelakangi oleh terbatasnya bahan ajar seni rupa kontekstual yang menghubungkan unsur visual alam, budaya lokal, dan kesadaran ekologis siswa. Penelitian menggunakan metode R&D model 4-D hingga tahap develop melalui uji terbatas. Data dikumpulkan melalui observasi geosite, wawancara tokoh lokal, validasi ahli, dan angket respon pengguna. Hasil menunjukkan E-Modul memperoleh kelayakan ahli materi 94,5%, ahli media 92,8%, dan kepraktisan pengguna 91,2%. Modul mengintegrasikan tebing andesit-basalt, tekstur batuan, lanskap air terjun, mitos pelestarian ikan, dan kriya tradisional sebagai sumber ide menggambar, melukis, serta ilustrasi. E-Modul layak digunakan sebagai bahan ajar yang kontekstual, kreatif, dan berorientasi pada identitas lokal serta kepedulian lingkungan.
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN SENI RUPA DUA DIMENSI BERBASIS KEARIFAN LOKAL MOTIF UKIRAN RUMAH TUO RANTAU PANJANG MENSINDING
73-82
Penelitian ini bertujuan mengembangkan pembelajaran seni rupa dua dimensi berbasis kearifan lokal motif ukiran Rumah Tuo Rantau Panjang Mensinding sebagai sumber belajar kontekstual. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, validasi ahli, dan angket respons pengguna. Hasil penelitian menunjukkan skor validasi ahli materi 92%, ahli media 89%, respons guru 94%, dan respons peserta didik 91%, seluruhnya berkategori sangat layak. Produk memuat pengenalan motif, eksplorasi unsur rupa, lembar kerja, rubrik penilaian, dan kegiatan apresiasi. Dengan demikian, produk layak digunakan sebagai alternatif pembelajaran seni rupa yang inovatif, kontekstual, serta mendukung pelestarian budaya lokal.
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DENGAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA MATERI SIKLUS HIDUP HEWAN (METAMORFOSIS) KELAS IV SDN 271/VI SEKANCING III
83-93
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi pembelajaran berdiferensiasi dengan model Problem Based Learning (PBL) pada materi siklus hidup hewan (metamorfosis) kelas IV SDN 271/VI Sekancing III. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui observasi, telaah perangkat ajar, wawancara guru, dan dokumentasi produk belajar. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa diferensiasi konten, proses, produk, dan lingkungan yang dipadukan dengan sintaks PBL membuat pembelajaran IPAS lebih kontekstual, meningkatkan keterlibatan peserta didik, dan memperjelas konsep metamorfosis sempurna serta tidak sempurna.
Eksplorasi Motif Ukiran Rumah Tuo Desa Air Batu dalam Penciptaan Karya Lukis Dua Dimensi
94-106
Ukiran Rumah Tuo Desa Air Batu merupakan sumber visual yang memuat nilai estetika, sejarah, dan identitas masyarakat Melayu Jambi. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi motif ukiran Rumah Tuo dan mentransformasikannya ke dalam karya lukis dua dimensi sebagai upaya pelestarian budaya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis penciptaan seni melalui tahap eksplorasi, perancangan, perwujudan, dan refleksi. Data diperoleh melalui observasi visual, dokumentasi, wawancara, serta studi literatur tentang Rumah Tuo, ornamentasi tradisional, dan pembelajaran seni berbasis budaya lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif keluk paku, tampuk manggis, sulur daun, pucuk rebung, dan awan-awan memiliki struktur garis, ritme, repetisi, serta makna simbolik yang dapat dikembangkan menjadi komposisi lukis kontemporer. Penelitian ini menghasilkan tiga rancangan karya lukis dan model pemanfaatan motif lokal sebagai sumber belajar seni rupa.
Inovasi Pembelajaran Berbasis Batik Bunga Merangin sebagai Upaya Penguatan Literasi Budaya Siswa Sekolah Dasar
107-116
Globalisasi mempercepat tergerusnya nilai budaya lokal siswa sekolah dasar, sehingga literasi budaya dan identitas kebangsaan perlu diperkuat melalui pembelajaran kontekstual. Artikel ini bertujuan menyusun kerangka inovasi pembelajaran berbasis Batik Bunga Merangin, yaitu batik lokal Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, dengan motif khas bunga Rafflesia. Penelitian menggunakan kajian konseptual dengan metode studi pustaka. Data berasal dari artikel jurnal, buku, dokumen kebijakan pendidikan, dan dokumen budaya yang dianalisis melalui seleksi literatur, pemetaan tema, sintesis kritis, dan perumusan kerangka konseptual. Hasil kajian menunjukkan bahwa Batik Bunga Merangin memuat nilai filosofis, ekologis, dan sosial budaya yang relevan untuk pembelajaran tematik Kurikulum Merdeka.
Pengembangan Pembelajaran Seni Rupa Dua Dimensi Berbasis Kearifan Lokal Jam Gento di Kota Bangko
117-124
Pembelajaran seni rupa dua dimensi masih sering menggunakan contoh visual yang jauh dari lingkungan budaya peserta didik. Penelitian ini bertujuan mengembangkan modul seni rupa dua dimensi berbasis kearifan lokal Jam Gento di Kota Bangko, Kabupaten Merangin, Jambi. Metode yang digunakan adalah Research and Development dengan model 4D, yaitu define, design, develop, dan disseminate. Data diperoleh melalui validasi ahli materi, ahli media, angket guru, dan respon siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul berada pada kategori sangat valid dan sangat praktis. Integrasi visual Jam Gento dan motif batik Jambi mampu memperkuat keterampilan menggambar perspektif, kepekaan estetis, serta kebanggaan siswa terhadap warisan budaya lokal.
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN SENI RUPA DUA DIMENSI BERBASIS OBJEK WISATA TELUK WANG SAKTI
125-132
Penelitian ini bertujuan mengembangkan model pembelajaran seni rupa dua dimensi berbasis objek wisata Teluk Wang Sakti untuk siswa sekolah dasar. Penelitian menggunakan metode Research and Development model ADDIE melalui tahap analysis, design, development, implementation, dan evaluation. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, validasi ahli, dan uji coba terbatas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Teluk Wang Sakti memiliki potensi sebagai sumber belajar karena memuat bentang alam, flora, fauna, warisan budaya, dan legenda masyarakat. Model yang dikembangkan mengintegrasikan Project Based Learning dengan kearifan lokal dan dinilai valid, praktis, serta efektif dalam meningkatkan kreativitas dan kesadaran budaya siswa.
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN SENI RUPA DUA DIMENSI BERBASIS KEARIFAN LOKAL BATU SELINDRIK PERATIN TUO
133-140
Penelitian ini bertujuan mengembangkan bahan ajar pembelajaran seni rupa dua dimensi berbasis kearifan lokal Batu Selindrik Peratin Tuo yang valid, praktis, dan efektif digunakan dalam pembelajaran di sekolah menengah. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahap analysis, design, development, implementation, dan evaluation. Data dikumpulkan melalui lembar validasi ahli, angket respon guru dan peserta didik, serta tes hasil belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan memperoleh kriteria sangat valid berdasarkan penilaian ahli materi sebesar 91% dan ahli media sebesar 88%. Implementasi bahan ajar menunjukkan tingkat kepraktisan tinggi berdasarkan respon peserta didik sebesar 87% dan guru sebesar 92%. Selain itu, efektivitas bahan ajar terlihat dari peningkatan pemahaman apresiasi seni dan keterampilan menggambar ragam hias dua dimensi dengan ketuntasan klasikal mencapai 86%. Dengan demikian, bahan ajar berbasis Batu Selindrik Peratin Tuo layak digunakan sebagai media pembelajaran seni rupa sekaligus sarana pelestarian budaya lokal melalui pendidikan formal.
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN SENI RUPA DUA DIMENSI BERBASIS FLORA DAN FAUNA ENDEMIK MERANGIN
141-148
Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan menguji efektivitas pembelajaran seni rupa dua dimensi berbasis flora dan fauna endemik Merangin. Penelitian menggunakan metode eksperimen semu desain Non-equivalent Control Group Design dengan sampel 60 siswa yang terbagi dalam kelompok eksperimen dan kontrol. Instrumen penelitian berupa tes kinerja karya seni dua dimensi dan angket apresiasi seni. Hasil Independent Samples t-test menunjukkan signifikansi 0,000 (p < 0,05) dengan effect size 2,55. Temuan ini membuktikan bahwa model berbasis flora dan fauna endemik Merangin efektif meningkatkan keterampilan visual, kreativitas, apresiasi lokal, dan kepedulian ekologis siswa.
Estetika, Filosofi, dan Keberlanjutan Batik Motif Flora Berhias Sulur Khas Kabupaten Merangin Jambi
149-155
Penelitian ini menganalisis karakteristik visual, makna simbolik, dan pelestarian batik motif flora berhias sulur khas Kabupaten Merangin. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan analisis semiotika Charles Sanders Peirce. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi visual, dan studi pustaka. Hasil kajian menunjukkan bahwa motif Sidingin, Sitawa, Kelok Paku, Kancung Beruk, dan Batanghari tidak hanya bernilai dekoratif, tetapi juga merepresentasikan pengetahuan botani tradisional, kesejukan hati, solidaritas, keteguhan, dan hubungan harmonis manusia dengan alam. Pelestarian melalui Sanggar Batik Hafsah berperan penting dalam memperkuat identitas budaya dan ekonomi kreatif Merangin.
PEMBELAJARAN IPA BERDIFERENSIASI BERBASIS COOPERATIVE-INQUIRY LEARNING PADA MATERI SUMBER ENERGI DI SEKOLAH DASAR
156-162
Pembelajaran IPA di sekolah dasar perlu dirancang adaptif karena siswa memiliki kesiapan, minat, dan gaya belajar yang beragam. Artikel ini mendeskripsikan penerapan pembelajaran IPA berdiferensiasi berbasis cooperative-inquiry learning pada materi sumber energi di kelas V SDN 104/Rantau Panjang. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi partisipatif pasif, catatan lapangan, dan dokumentasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa kelompok heterogen, pembagian peran, media konkret, percobaan sederhana, dan diskusi berbasis masalah mendorong keaktifan siswa dalam mengidentifikasi sumber energi, menyusun dugaan, mengolah data, dan menyimpulkan konsep energi terbarukan serta tidak terbarukan. Kendala yang ditemukan meliputi keterbatasan waktu, alat peraga, perbedaan pemahaman konsep, dan siswa pasif. Perbaikan dilakukan melalui penguatan bimbingan, penambahan media, serta pembagian peran kelompok.
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN SENI RUPA DUA DIMENSI BERBASIS KEARIFAN LOKAL RUMAH ADAT RANTAU PANJANG
163-169
Penelitian ini bertujuan mengembangkan model pembelajaran seni rupa dua dimensi berbasis kearifan lokal Rumah Adat Rantau Panjang untuk siswa sekolah dasar. Penelitian menggunakan metode Research and Development model ADDIE melalui tahap analysis, design, development, implementation, dan evaluation. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, validasi ahli, dan uji coba terbatas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rumah Adat Rantau Panjang memiliki potensi sebagai sumber belajar melalui bentuk panggung, atap perahu terbalik, ukiran, ornamen, dan nilai filosofis budaya. Model yang dikembangkan mengintegrasikan Project Based Learning dengan kearifan lokal. Uji coba menunjukkan keterlibatan aktif siswa sebesar 92% serta peningkatan kreativitas pada aspek kelancaran, keluwesan, keaslian, dan elaborasi.
CAGAR BUDAYA KAWASAN RUMAH TUO DESA RANTAU PANJANG MERANGIN: KAJIAN SEJARAH, NILAI FILOSOFIS, DAN STRATEGI PELESTARIAN WARISAN BUDAYA LOKAL
170-178
Rumah Tuo Desa Rantau Panjang, Kabupaten Merangin, merupakan cagar budaya nasional yang memuat jejak sejarah, arsitektur tradisional, dan sistem nilai masyarakat Suku Batin. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan sejarah terbentuknya Rumah Tuo, mengidentifikasi nilai filosofisnya, serta merumuskan strategi pelestarian berbasis komunitas dan pendidikan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara, studi dokumen, dan triangulasi sumber. Data dianalisis dengan model Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rumah Tuo berkaitan dengan narasi migrasi masyarakat pasca runtuhnya Kerajaan Koto Rayo dan menjadi simbol identitas Suku Batin sejak abad ke-14. Nilai utama yang ditemukan meliputi penghormatan kepada tamu dan sesepuh, musyawarah, gotong royong, kepedulian sosial, kesantunan, serta tanggung jawab antargenerasi. Pelestarian perlu dilakukan melalui perawatan fisik, dokumentasi pengetahuan lokal, pembelajaran sejarah lokal, dan kolaborasi lintas pihak.
PERAN GURU DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA TERHADAP MATERI IPS SD
179-187
Pembelajaran IPS di sekolah dasar sering belum menghasilkan pemahaman yang kuat karena materi sosial masih banyak diperlakukan sebagai hafalan. Artikel ini bertujuan menganalisis peran guru dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi IPS SD. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-kualitatif terhadap artikel jurnal Indonesia dan sumber resmi pendidikan yang relevan. Analisis dilakukan melalui inventarisasi, reduksi, pengelompokan, dan sintesis temuan. Hasil kajian menunjukkan bahwa guru berperan sebagai perancang pembelajaran kontekstual, fasilitator diskusi, motivator minat belajar, mediator media dan sumber belajar, pengelola diferensiasi, serta evaluator pemahaman konsep. Pemahaman siswa meningkat apabila guru mengaitkan materi dengan pengalaman sosial siswa, memilih media yang memperjelas konsep, memberi ruang aktivitas belajar, dan memakai asesmen formatif untuk memperbaiki pembelajaran. Artikel ini menegaskan bahwa peningkatan pemahaman IPS tidak bergantung pada penjelasan guru semata, tetapi pada rangkaian tindakan pedagogis yang terencana dan konsisten.
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN SENI RUPA DUA DIMENSI BERBASIS KEARIFAN LOKAL BATIK BUNGA MELATI MERANGIN JAMBI
188-196
Penelitian ini bertujuan mengembangkan pembelajaran seni rupa dua dimensi berbasis kearifan lokal Batik Bunga Melati Merangin Jambi sebagai sumber belajar kontekstual di sekolah dasar. Masalah penelitian berangkat dari terbatasnya pemanfaatan budaya lokal dalam pembelajaran seni rupa. Metode yang digunakan adalah Research and Development model ADDIE yang meliputi analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Produk dikembangkan dalam bentuk modul ajar, bahan ajar, media visual motif batik, LKPD, dan rubrik penilaian. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa motif Batik Bunga Melati dapat digunakan untuk mengenalkan unsur garis, bidang, warna, pola, dan komposisi sekaligus menumbuhkan kreativitas, apresiasi budaya, dan karakter cinta tanah air.
TRANSFORMASI MOTIF UKIRAN TRADISIONAL MERANGIN DALAM LUKISAN DEKORATIF PESONA UKIRAN ADAT MERANGIN
197-204
Penelitian ini bertujuan menganalisis transformasi motif ukiran tradisional Merangin ke dalam karya lukis dekoratif Pesona Ukiran Adat Merangin. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis visual. Data diperoleh dari dokumentasi karya, foto ornamen rujukan, catatan konsep, dan studi pustaka tentang Rumah Tuo Rantau Panjang, ragam hias Melayu-Jambi, serta teori estetika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karya ini menampilkan motif tengah sebagai simbol kemakmuran, motif sulur sebagai simbol pertumbuhan, motif bunga sebagai simbol keindahan dan keramahan, serta bingkai persegi sebagai simbol persatuan dan perlindungan. Warna kuning emas dan merah bata memperkuat kesan hangat, agung, dan tradisional. Karya ini dapat menjadi media visual pelestarian identitas budaya Merangin berbasis seni rupa.
PENERAPAN PEMBELAJARAN IPA BERDIFERENSIASI BERBASIS COOPERATIVE LEARNING PADA MATERI BAGIAN-BAGIAN TUMBUHAN DI SEKOLAH DASAR
205-211
Artikel ini bertujuan mendeskripsikan penerapan pembelajaran IPA berdiferensiasi berbasis Cooperative Learning pada materi bagian-bagian tumbuhan di kelas III SDN 042/VI Rantau Alai. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan sumber data laporan observasi dan rancangan pelaksanaan pembelajaran. Hasil kajian menunjukkan bahwa media gambar bagian-bagian tumbuhan, pengelompokan kooperatif, diskusi, dan ice breaking menciptakan suasana belajar yang kondusif serta meningkatkan partisipasi siswa. Siswa lebih mudah memahami fungsi akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji karena materi disajikan secara visual dan dekat dengan pengalaman sehari-hari. Kendala yang perlu diperbaiki ialah variasi media dan pemerataan peran anggota kelompok. Pembelajaran ini layak diterapkan karena mendukung keaktifan, kerja sama, dan pemahaman konsep IPA.
RUMAH TUO MUARA MADRAS SEBAGAI WARISAN BUDAYA MASYARAKAT DI DESA MUARA MADRAS KECAMATAN JANGKAT KABUPATEN MERANGIN
212-220
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan Rumah Tuo Muara Madras sebagai warisan budaya masyarakat di Desa Muara Madras, Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin. Fokus kajian meliputi sejarah, karakteristik arsitektur, fungsi sosial-budaya, nilai filosofis, dan strategi pelestarian. Penelitian menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari artikel ilmiah, dokumen pemerintah, regulasi cagar budaya, laporan statistik daerah, serta literatur tentang arsitektur vernakular dan pelestarian budaya. Analisis dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Rumah Tuo Muara Madras merepresentasikan arsitektur tradisional masyarakat pegunungan Jambi yang memadukan pengaruh Melayu Jambi, Minangkabau, dan Kerinci. Ciri utamanya tampak pada bentuk rumah panggung, kayu lokal, sambungan pasak, tiang di atas batu datar, dan tata ruang keluarga. Rumah Tuo juga memuat nilai gotong royong, penghormatan kepada leluhur, adaptasi ekologis, dan identitas sosial.
PERAN MATA PELAJARAN IPS DALAM MENUMBUHKAN SIKAP SOSIAL SISWA SD
221-231
Artikel ini bertujuan menganalisis peran mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam menumbuhkan sikap sosial siswa sekolah dasar. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan menelaah artikel jurnal, dokumen kebijakan, dan sumber akademik terbuka tentang IPS, pendidikan karakter, dan sikap sosial. Hasil kajian menunjukkan bahwa IPS berperan sebagai ruang integrasi pengetahuan sosial, pengalaman nyata, keteladanan guru, pembiasaan kelas, pembelajaran kooperatif, dan refleksi perilaku. Pembelajaran IPS yang kontekstual membantu siswa mengembangkan toleransi, kerja sama, tanggung jawab, kepedulian, disiplin, santun, dan gotong royong. Dengan demikian, IPS perlu dirancang sebagai pembelajaran bermakna yang menghubungkan materi, budaya sekolah, dan praktik sosial siswa, bukan hanya hafalan konsep sosial.
RANCANGAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING PADA PEMBELAJARAN IPAS SEKOLAH DASAR
232-243
Artikel ini bertujuan menganalisis rancangan pembelajaran berdiferensiasi berbasis Problem Based Learning (PBL) pada pembelajaran IPAS kelas IV SD 61 Desa Tiaro 1, khususnya materi kalor dan perubahan energi. Metode yang digunakan ialah kajian kualitatif berbasis analisis dokumen terhadap makalah, RPP, dan laporan observasi, kemudian dikonfirmasi dengan literatur tentang PBL, diferensiasi, diskusi kelompok, dan pembelajaran IPAS. Hasil analisis menunjukkan bahwa rancangan telah memuat orientasi masalah, percobaan sederhana, kerja kelompok, presentasi, refleksi, serta diferensiasi proses dan produk. Namun, rancangan masih perlu diperkuat melalui asesmen diagnostik, rumusan masalah investigatif, LKPD bertahap, rubrik penilaian, dan tindak lanjut remedial-pengayaan. Artikel ini merekomendasikan penguatan RPP agar diferensiasi menjadi strategi pedagogis yang terukur untuk meningkatkan partisipasi dan pemahaman konsep peserta didik
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN SENI RUPA DUA DIMENSI BERBASIS KEARIFAN LOKAL MENSINDING RUMAH TUO RANTAU PANJANG
244-252
Penelitian ini bertujuan mengembangkan pembelajaran seni rupa dua dimensi berbasis kearifan lokal Mensinding Rumah Tuo Rantau Panjang bagi siswa sekolah dasar. Penelitian menggunakan metode research and development dengan model ADDIE yang meliputi analisis, perancangan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, angket validasi, angket respon, dan tes hasil belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ornamen Mensinding memiliki nilai artistik dan filosofis yang kuat melalui motif bunga tanjung, tampuk manggis, bunga cempaka, bunga jeruk, sulur daun, dan gulung paku. Model pembelajaran dinyatakan sangat valid dengan persentase 89,5%, sangat praktis berdasarkan respon guru 87,3%, serta efektif meningkatkan hasil belajar dengan N-Gain 0,72 kategori tinggi. Pembelajaran ini mendorong kreativitas, apresiasi budaya, dan keterampilan visual siswa sekaligus menjadi alternatif pelestarian budaya lokal Merangin melalui pendidikan.
PEMBELAJARAN IPS SEBAGAI SARANA MENANAKAN NILAI TOLERANSI DAN KERJA SAMA
253-258
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik, khususnya dalam menanamkan nilai toleransi dan kerja sama sebagai bekal kehidupan bermasyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pembelajaran IPS dapat menjadi sarana yang efektif dalam menumbuhkan sikap toleransi dan kerja sama di lingkungan sekolah. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan mengkaji berbagai buku, artikel ilmiah, dan hasil penelitian yang relevan mengenai pembelajaran IPS, pendidikan karakter, toleransi, dan kerja sama. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembelajaran IPS yang menerapkan metode diskusi, kerja kelompok, pembelajaran berbasis proyek, dan pemecahan masalah mampu meningkatkan kemampuan peserta didik untuk menghargai perbedaan, bekerja sama, berkomunikasi secara efektif, serta memiliki kepedulian sosial.
TRANSFORMASI MOTIF UKIRAN RUMAH TUO RANTAU PANJANG MENJADI DESAIN BATIK: NILAI FILOSOFIS DAN PELESTARIAN BUDAYA
259-269
Artikel ini mengkaji transformasi motif ukiran Rumah Tuo Rantau Panjang, Kabupaten Merangin, Jambi, menjadi desain batik sebagai strategi pelestarian budaya dan penguatan identitas lokal. Penelitian bertujuan mengidentifikasi bentuk visual ukiran, menafsirkan nilai filosofisnya, serta merumuskan prinsip alih media dari ukiran kayu ke pola batik. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui studi kepustakaan, telaah visual konseptual, dan analisis semiotika. Hasil kajian menunjukkan bahwa motif keluk paku, tampuk manggis, tali ikat, akar kekait, bunga, sulur, dan pola simetris merepresentasikan nilai religius, sosial, ekologis, musyawarah, gotong royong, keteraturan, serta keterikatan pada alam. Transformasi dilakukan melalui stilasi, simplifikasi, repetisi, adaptasi komposisi, dan penguatan narasi budaya. Batik berbasis ukiran Rumah Tuo berpotensi menjadi media pelestarian budaya, sumber belajar muatan lokal, dan produk ekonomi kreatif berbasis identitas daerah.
PEMBELAJARAN IPS BERBASIS LINGKUNGAN SEKITAR PADA SISWA SD
270-279
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Sekolah Dasar tidak cukup dipahami sebagai kegiatan menyampaikan konsep sosial melalui buku teks, tetapi perlu diarahkan sebagai pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan konsep, langkah penerapan, manfaat, tantangan, dan rekomendasi pembelajaran IPS berbasis lingkungan sekitar pada siswa SD. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui telaah artikel jurnal, buku, dan dokumen kebijakan yang relevan dengan pembelajaran IPS, sumber belajar lingkungan, pembelajaran kontekstual, dan Kurikulum Merdeka. Hasil kajian menunjukkan bahwa lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, pasar, tempat ibadah, kantor pemerintahan, sawah, sungai, dan ruang publik dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang konkret. Pembelajaran IPS berbasis lingkungan sekitar membantu meningkatkan motivasi belajar, pemahaman konsep, kemampuan observasi, berpikir kritis, komunikasi, kerja sama, serta kepedulian sosial dan ekologis peserta didik. Penerapannya perlu dirancang melalui pemetaan kompetensi, pemilihan objek lingkungan, observasi terarah, diskusi, refleksi, dan asesmen autentik. Dengan demikian, pembelajaran IPS berbasis lingkungan sekitar menjadi strategi relevan untuk mendukung pembelajaran bermakna, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik di Sekolah Dasar.
PENGEMBANGAN SENI RUPA DUA DIMENSI BERBASIS KEARIFAN LOKAL PADA UKIRAN BUNGO TANJUNG RUMAH TUO DI MERANGIN
280-291
Artikel ini mengkaji pengembangan seni rupa dua dimensi berbasis kearifan lokal melalui motif ukiran Bungo Tanjung pada Rumah Tuo di Kabupaten Merangin, Jambi. Tujuan kajian adalah mendeskripsikan karakter visual motif, nilai filosofis, proses stilisasi, dan pemanfaatannya sebagai media pembelajaran serta pelestarian budaya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode pengembangan karya berbasis praktik, studi pustaka, observasi visual, dokumentasi, dan analisis unsur seni rupa. Hasil kajian menunjukkan bahwa motif Bungo Tanjung memuat nilai keindahan, kesucian, keharmonisan, keteraturan, dan hubungan manusia dengan alam. Motif tersebut dapat dikembangkan melalui identifikasi bentuk, eksplorasi visual, penyusunan sketsa, pewarnaan, dan evaluasi prinsip seni rupa. Pengembangan ini relevan sebagai sumber belajar kontekstual, media promosi budaya, dan strategi pewarisan identitas lokal kepada generasi muda.
REINTERPRETASI MOTIF UKIRAN RUMAH TUO TABIR DALAM PENGEMBANGAN DESAIN ORNAMEN BINGKAI BERMOTIF SULUR DAN SIMPUL
292-300
Artikel ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis reinterpretasi motif ukiran Rumah Tuo Tabir dalam karya desain ornamen bingkai bermotif sulur dan simpul. Kajian dilakukan karena motif tradisional Rumah Tuo memiliki nilai estetis, simbolik, dan edukatif, namun masih memerlukan pengembangan visual agar lebih dekat dengan kebutuhan pembelajaran seni rupa masa kini. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka, dokumentasi visual, kunjungan terbatas ke situs Rumah Tuo Rantau Panjang, serta analisis unsur dan prinsip seni rupa terhadap karya. Hasil kajian menunjukkan bahwa karya menampilkan komposisi simetris berupa bingkai persegi panjang, ornamen sudut berbentuk bunga, sulur daun pada bagian tepi, dan motif simpul geometris pada bidang pusat. Motif simpul tersebut bukan motif asli Rumah Tuo, melainkan interpretasi kreatif penulis terhadap nilai persatuan yang berkaitan dengan falsafah tali bapilin tigo. Karya ini memuat nilai musyawarah, kerukunan, tanggung jawab, gotong royong, kecintaan terhadap budaya lokal, dan pelestarian warisan budaya sehingga relevan digunakan sebagai media pembelajaran seni rupa berbasis kearifan lokal.
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN SENI RUPA BERBASIS LUKISAN BATIK RUMAH TUO RANTAU PANJANG
301-311
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses penciptaan lukisan batik Rumah Tuo Rantau Panjang dan menganalisis potensinya sebagai media pembelajaran seni rupa dua dimensi di sekolah dasar. Metode penelitian menggunakan penciptaan karya seni dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi, studi literatur, eksplorasi ide, desain digital, sketsa, pewarnaan akrilik, finishing, dan analisis visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karya memadukan arsitektur Rumah Tuo dengan ornamen batik Jambi melalui unsur garis, bentuk, warna, tekstur, ruang, serta prinsip kesatuan, keseimbangan, irama, proporsi, harmoni, dan penekanan. Karya ini berpotensi menjadi media apresiasi dan praktik seni rupa yang menumbuhkan kreativitas, literasi visual, serta kesadaran pelestarian budaya lokal peserta didik.
MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SD MELALUI PEMBELAJARAN IPS
312-322
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di sekolah dasar berpotensi kuat melatih kemampuan berpikir kritis karena dekat dengan persoalan sosial, lingkungan, budaya, dan kehidupan sehari-hari siswa. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan strategi peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa SD melalui pembelajaran IPS. Metode penelitian menggunakan studi pustaka dengan menelaah artikel jurnal nasional dan internasional terbuka yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa berpikir kritis dapat ditingkatkan melalui pembelajaran berbasis masalah, diskusi kelompok, pendekatan kontekstual, pendekatan saintifik, isu sosial lokal, dan asesmen berbasis alasan. Pembelajaran IPS yang efektif perlu menempatkan siswa sebagai penanya, penyelidik, pemberi alasan, dan pengambil keputusan sehingga siswa tidak hanya menghafal konsep, tetapi juga mampu menganalisis, mengevaluasi, menyimpulkan, dan bertindak sosial secara bertanggung jawab.
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN SENI RUPA DUA DIMENSI BERBASISKEARIFAN LOKAL MENSINDING RUMAH TUO RANTAU PANJANG
323-330
Penelitian ini bertujuan mengembangkan pembelajaran seni rupa dua dimensi berbasis kearifan lokal Mensinding Rumah Tuo Rantau Panjang pada siswa sekolah dasar. Metode yang digunakan adalah research and development dengan model ADDIE. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, angket validasi, angket respons, dan tes hasil belajar terhadap 28 siswa kelas V SD Negeri 101 Merangin. Hasil penelitian menunjukkan ornamen Mensinding memiliki potensi visual dan filosofis melalui motif flora, pola berulang, dan nilai keberlanjutan budaya. Model memperoleh validitas 89,5%, kepraktisan guru 87,3%, respons siswa 85,6%, dan N-Gain 0,72. Temuan ini menunjukkan pembelajaran berbasis Mensinding layak digunakan untuk meningkatkan kreativitas visual dan apresiasi budaya lokal.
PENERAPAN METODE DISKUSI DALAM PEMBELAJARAN IPS DI SD
331-340
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di sekolah dasar sering menghadapi rendahnya partisipasi siswa, dominasi ceramah, dan terbatasnya kesempatan menyampaikan pendapat. Artikel ini bertujuan menganalisis penerapan metode diskusi dalam pembelajaran IPS di SD serta kontribusinya terhadap aktivitas belajar, hasil belajar, komunikasi, kerja sama, dan berpikir kritis. Metode yang digunakan adalah studi literatur terhadap artikel jurnal terbuka, dokumen kebijakan kurikulum, dan sumber akademik yang memiliki DOI atau tautan akses. Hasil kajian menunjukkan bahwa diskusi efektif ketika guru merancang masalah kontekstual, membagi kelompok proporsional, memberi peran, mengarahkan pertanyaan pemantik, memfasilitasi pendapat, dan menutup kegiatan dengan refleksi serta penilaian. Efektivitasnya bergantung pada pengarahan guru, pengelolaan waktu, kesiapan bahan ajar, dan pemerataan partisipasi. Dengan demikian, metode diskusi layak digunakan sebagai strategi pembelajaran IPS yang aktif, demokratis, dan bermakna di SD
KAJIAN ESTETIKA DAN MAKNA SIMBOLIK UKIRAN PADA RUMAH TUO RANTAU PANJANG SEBAGAI WARISAN BUDAYA MELAYU JAMBI
341-350
Penelitian ini bertujuan mengkaji estetika dan makna simbolik ukiran pada Rumah Tuo Rantau Panjang sebagai warisan budaya Melayu Jambi. Kajian dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka, analisis dokumentasi visual, dan interpretasi simbolik terhadap sumber ilmiah terbuka. Data diperoleh dari artikel jurnal, dokumen akademik, dan foto Rumah Tuo yang kemudian dianalisis melalui inventarisasi unsur visual, klasifikasi motif, pembacaan fungsi estetis, serta penafsiran nilai budaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa ukiran Rumah Tuo tidak hanya berfungsi sebagai penghias bangunan, tetapi juga sebagai media penyampai nilai adat masyarakat Suku Batin. Motif keluk paku, tampuk manggis, tali ikat, akar kekait, dan bentuk flora lain merepresentasikan kepemimpinan, keramahan, ikatan sosial, ketahanan keluarga, serta kesinambungan tradisi. Estetika Rumah Tuo dibangun melalui keselarasan bentuk panggung, bahan kayu, ritme garis, dan penempatan ornamen pada bagian bangunan. Kajian ini menegaskan bahwa pelestarian Rumah Tuo harus mencakup pemeliharaan fisik, dokumentasi makna ukiran, dan pemanfaatannya sebagai sumber pembelajaran budaya lokal.
ANALISIS RAGAM HIAS DAN MAKNA SIMBOLIK UKIRAN RUMAH TUO RANTAU PANJANG DI JAMBI
351-361
Penelitian ini bertujuan menganalisis ragam hias dan makna simbolik ukiran Rumah Tuo Rantau Panjang di Jambi sebagai warisan budaya masyarakat Suku Batin. Kajian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka, analisis visual dokumenter, dan interpretasi semiotik terhadap sumber ilmiah terbuka. Data dianalisis melalui inventarisasi motif, klasifikasi bentuk, identifikasi fungsi, penafsiran makna, dan sintesis nilai budaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa ragam hias Rumah Tuo didominasi keluk paku, tampuk manggis, mensinding gulung paku, akar kekait, dan tali ikat. Makna simboliknya berkaitan dengan kepemimpinan, kesantunan kepada tamu, ikatan genealogis, gotong royong, keharmonisan sosial, dan identitas Suku Batin.
EKSPLORASI NILAI ESTETIKA, BUDAYA, DAN EDUKATIF DALAM KARYA LUKIS BATIK KANVAS BERBASIS MOTIF BATU SILINDRIK MERANGIN
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi nilai estetika, budaya, dan edukatif dalam karya lukis batik kanvas berbasis motif batu silindrik Merangin. Batu silindrik merupakan salah satu peninggalan situs megalitikum di Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, yang memiliki bentuk visual dan nilai historis yang berpotensi dikembangkan menjadi sumber inspirasi penciptaan karya seni. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan eksplorasi seni rupa (art creation research). Data penelitian diperoleh melalui observasi, studi literatur, dokumentasi, serta analisis karya terhadap proses penciptaan motif, komposisi visual, penggunaan warna, dan makna budaya yang terkandung dalam karya. Proses penciptaan dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu eksplorasi ide, stilisasi bentuk batu silindrik, perancangan motif, penerapan desain pada media kanvas, pewarnaan, dan evaluasi karya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif batu silindrik Merangin dapat dikembangkan menjadi motif batik dekoratif melalui pengolahan unsur garis, bentuk, pola, dan warna. Karya yang dihasilkan memiliki nilai estetika melalui keharmonisan komposisi visual, nilai budaya melalui representasi identitas lokal Merangin, serta nilai edukatif sebagai media pengenalan sejarah dan warisan budaya kepada masyarakat. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan motif berbasis budaya lokal melalui seni lukis batik kanvas dapat menjadi salah satu strategi kreatif dalam pelestarian budaya serta pengembangan seni rupa kontemporer.
PEMBELAJARAN SENI RUPA DUA DIMENSI BERBASIS KEARIFAN LOKAL BATU LARUNG PERATIN TUO UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS DAN APRESIASI BUDAYA SISWA SEKOLAH DASAR
362-374
Pembelajaran seni rupa di sekolah dasar sering berhenti pada latihan menggambar yang bersifat umum sehingga belum sepenuhnya menghubungkan pengalaman estetik siswa dengan budaya lokal di sekitarnya. Artikel ini bertujuan merumuskan desain pembelajaran seni rupa dua dimensi berbasis kearifan lokal Batu Larung Peratin Tuo sebagai sumber inspirasi visual, nilai, dan identitas budaya siswa sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dengan menganalisis artikel jurnal tentang megalitik Jambi, Batu Larung, pembelajaran seni rupa, kreativitas, dan apresiasi budaya. Hasil kajian menghasilkan rancangan model pembelajaran LARUNG, yaitu Lihat konteks budaya, Amati unsur rupa, Rancang ide visual, Ungkapkan karya, Nilai secara reflektif, dan Gelar karya. Model ini menempatkan Batu Larung bukan sebagai objek yang disalin mentah-mentah, melainkan sebagai sumber pembacaan bentuk, motif, cerita, dan nilai penghormatan terhadap warisan budaya. Pembelajaran dirancang melalui kegiatan observasi visual, diskusi makna, eksplorasi unsur garis-bidang-warna, pembuatan karya dua dimensi, kritik sederhana, dan pameran kelas. Desain ini berpotensi meningkatkan kreativitas visual, kemampuan apresiasi budaya, serta kebanggaan siswa terhadap identitas lokal Merangin.
KEARIFAN LOKAL JAMBI DALAM MEMBENTUK KARAKTER SISWA SD
375-385
Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi kearifan lokal Jambi dalam membentuk karakter siswa sekolah dasar serta merumuskan strategi integrasinya dalam pembelajaran. Kajian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan pendidikan karakter yang tidak berhenti pada slogan, tetapi hadir melalui pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan siswa. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka kualitatif terhadap artikel jurnal terbuka yang membahas pendidikan karakter, pembelajaran berbasis kearifan lokal, dan ragam budaya Jambi, seperti Lacak Melayu Jambi, cerita rakyat Melayu Jambi, tradisi Suku Anak Dalam, batik Jambi, ungkapan Melayu Jambi, serta kearifan lokal Kerinci. Data dianalisis melalui reduksi tema, pemetaan nilai karakter, dan sintesis desain pembelajaran. Hasil kajian menunjukkan bahwa kearifan lokal Jambi memuat nilai religius, tanggung jawab, disiplin, gotong royong, kepedulian sosial, cinta budaya, toleransi, dan kepedulian lingkungan. Nilai-nilai tersebut dapat diinternalisasikan melalui cerita rakyat, proyek budaya, pembelajaran tematik, karya seni, refleksi nilai, serta kolaborasi sekolah dengan masyarakat adat dan pelaku budaya. Artikel ini menegaskan bahwa kearifan lokal Jambi dapat menjadi sumber belajar kontekstual yang relevan untuk membentuk karakter siswa SD secara bermakna.
APRESIASI SASTRA NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM CERITA RAKYAT LEGENDA DESA TANJUNG PUTIH
386-393
Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai kearifan lokal dalam cerita rakyat "Legenda Desa Tanjung Putih" yang bersumber dari penuturan masyarakat Desa Nilo Dingin, Kabupaten Merangin. Melalui metode apresiasi sastra, penelitian menemukan tiga nilai utama dalam legenda tersebut: gotong royong dan kepedulian sosial saat menghadapi kemarau 7 musim, pengampunan dan sikap menjamu tamu saat diuji saudagar tamak, serta keikhlasan tanpa pamrih dalam merawat Resi Mahaputra. Unsur intrinsik berupa tokoh Datuk Penghulu dan Resi Mahaputra, alur maju dengan 3 klimaks ujian, serta simbol "Tanjung Putih" dan "Beringin Putih" berhasil menyampaikan amanat bahwa nama adalah doa dan kekayaan sejati adalah kebersamaan. Gaya bahasa puitis dengan pengulangan kata "putih" memperkuat makna kesucian. Hasil apresiasi menunjukkan relevansi nilai cerita dengan krisis sosial masa kini seperti kemarau panjang, keserakahan, dan hilangnya empati.
Cerita Rakyat Kabupaten Merangin sebagai Wahana Penanaman Nilai Karakter pada Pembelajaran Sastra Anak di Sekolah Dasar
394-403
Cerita rakyat merupakan salah satu genre sastra lisan yang memiliki potensi pedagogis signifikan, terutama dalam konteks pendidikan dasar. Namun, eksplorasi akademis terhadap cerita rakyat lokal Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, sebagai sumber pembelajaran sastra anak di sekolah dasar masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi struktur naratif, nilai karakter, serta relevansi pedagogis empat cerita rakyat dari wilayah Merangin, yakni "Asal Usul Desa Durian Lecah", "Legenda Mas-Urai", "Batu Silindrik Desa Tuo", dan "Asal Usul Desa Teluk Sikumbang". Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan folklor dan analisis struktural-semiotik. Data dikumpulkan melalui dokumentasi teks, kemudian dianalisis menggunakan teori struktur naratif Propp, konsep nilai karakter Kemendikbudristek, serta pendekatan apresiasi sastra anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat cerita rakyat tersebut mengandung nilai-nilai karakter utama meliputi gotong royong, tanggung jawab terhadap alam, kejujuran, dan rasa hormat terhadap leluhur yang terartikulasi melalui narasi berlatar lokal Merangin. Kandungan nilai tersebut sejalan dengan Profil Pelajar Pancasila yang dikembangkan dalam Kurikulum Merdeka. Implikasi penelitian ini mendorong pengintegrasian cerita rakyat lokal ke dalam bahan ajar sastra anak di jenjang sekolah dasar sebagai strategi penguatan identitas budaya dan pembentukan karakter peserta didik.
RAGAM HIAS UKIRAN TEBAR LAYAR PADA RUMAH TUO RANTAU PANJANG: KAJIAN SEJARAH ADAT DAN MAKNA SIMBOLIK
404-412
Penelitian ini mengkaji ragam hias ukiran tebar layar pada Rumah Tuo Rantau Panjang, Kabupaten Merangin, Jambi, dengan menitikberatkan pada sejarah adat dan makna simboliknya. Pendekatan yang digunakan ialah kualitatif deskriptif melalui studi pustaka, pengamatan foto, dan analisis skema ornamen. Hasil kajian menunjukkan bahwa tebar layar bukan sekadar elemen fasad bagian atas, melainkan ruang tanda yang memuat nilai perlindungan, keteraturan adat, persatuan keluarga, kedekatan dengan alam, serta identitas Melayu Batin. Temuan ini menegaskan bahwa pelestarian Rumah Tuo perlu dilakukan melalui dokumentasi bentuk, fungsi, dan makna ornamen secara detail agar warisan budaya tetap dipahami lintas generasi oleh masyarakat, peneliti, dan generasi muda.
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN SENI RUPA BERBASIS KEARIFAN LOKAL BATIK MERANGIN
413-419
Batik merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang telah mendapatkan pengakuan dunia sebagai warisan budaya tak benda sejak tahun 2009. Setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas motif serta makna filosofis batik yang mencerminkan identitas budaya masing-masing. Salah satu daerah yang memiliki tradisi batik yang cukup berkembang adalah Kabupaten Merangin yang berada di Provinsi Jambi. Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan karya seni lukis dua dimensi berbasis motif batik Merangin sekaligus mengenalkan budaya lokal kepada siswa. Metode yang digunakan adalah pendekatan kreatif dengan tahapan penggalian ide, perancangan visual, penyiapan alat dan bahan, proses melukis, dan penyempurnaan karya menggunakan media kanvas, cat akrilik, dan kuas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karya yang dihasilkan mampu memadukan unsur alam seperti gunung, sungai, dan ikan dengan motif batik secara harmonis, sehingga menghasilkan karya yang menarik, memiliki nilai estetika, serta mengandung makna budaya. Karya ini juga dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan kreativitas dan pemahaman siswa terhadap budaya lokal.
SEJARAH DESA PAMENANG: ADAT LAMO PUSAKO USANG Tradisi, Kepemimpinan Adat, dan Transformasi Sosial di Desa Pamenang, Kabupaten Merangin
420-427
Artikel ini membahas tentang Sejaran Desa Pamenang dan Adat Lamo Pusako Usang sebagai warisan budaya yang masih bertahan di tengah arus modernisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan berbagai tradisi adat yang berkembang di Desa Pamenang, Kabupaten Merangin, serta menganalisis makna kepemimpinan adat Pasirah dalam kehidupan masyarakat setempat. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, menggunakan teknik pengumpulan data berupa studi literatur dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Pamenang masih melestarikan berbagai ritual adat seperti ritual memanggil hujan, ngumbuk pusako sialang, ritual mandi sungai pertama untuk bayi, serta sistem kepemimpinan adat Pasirah dengan tiga karakter utama: sakti, bijaksana, dan warak. Tradisi-tradisi ini mengalami transformasi seiring masuknya nilai-nilai Islam, namun tetap mempertahankan esensi dan tujuannya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kearifan lokal Desa Pamenang memiliki nilai luhur yang perlu dilestarikan sebagai identitas budaya dan sumber pembelajaran karakter bagi generasi muda.
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN SENI RUPA DUA DIMENSI BERBASIS KEARIFAN LOKAL MELALUI MOTIF JENDELA RUMAH TUO RANTAU PANJANG
428-435
Pembelajaran seni rupa yang terhubung dengan budaya lokal diperlukan agar peserta didik tidak hanya menguasai keterampilan visual, tetapi juga memahami identitas dan nilai budaya di lingkungannya. Penelitian ini bertujuan mengembangkan prototipe pembelajaran seni rupa dua dimensi dengan memanfaatkan motif jendela Rumah Tuo Rantau Panjang sebagai sumber gagasan visual. Penelitian menggunakan pendekatan pengembangan kualitatif berbasis praktik melalui tahap eksplorasi objek budaya, perancangan komposisi, realisasi karya, dan analisis visual-pedagogis. Data diperoleh melalui observasi visual, dokumentasi proses, dan kajian artikel ilmiah mutakhir. Hasil pengembangan berupa alur pembelajaran lima tahap, yaitu orientasi budaya, eksplorasi unsur rupa, perancangan, penciptaan karya, serta apresiasi dan refleksi. Karya akhir pada kanvas 30 × 30 cm menggabungkan motif jendela Rumah Tuo dengan Gunung Masurai dan bunga cengkeh. Komposisi menunjukkan penerapan garis, bentuk geometris dan organik, pengulangan, keseimbangan, irama, kesatuan, dan harmoni. Prototipe ini dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran kontekstual, tetapi masih memerlukan validasi ahli dan uji coba kelas untuk menilai kepraktisan serta efektivitasnya.
CERITA RAKYAT DESA BARU MERANGIN JAMBI: SEBUAH HARAPAN DAN KEAJAIBAN DARI PELOSOK NUSANTARA
436-441
Cerita rakyat merupakan warisan budaya tak benda yang sarat akan nilai-nilai moral, sosial, dan kearifan lokal. Namun, eksistensi cerita rakyat di berbagai pelosok Nusantara, termasuk di Desa Baru, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, semakin tergerus oleh arus modernisasi sehingga berpotensi hilang tanpa terdokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan menganalisis cerita rakyat Desa Baru yang mengandung nilai-nilai harapan dan keajaiban, serta mengkaji relevansinya dengan kehidupan masyarakat kontemporer. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap lima orang informan yang terdiri dari tetua adat, tokoh masyarakat, dan generasi muda di Desa Baru, Kecamatan Tabir Lintas. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menemukan tiga cerita rakyat utama yang masih hidup di masyarakat, yakni kisah asal-usul Desa Baru yang merepresentasikan harapan di tengah keterbatasan, tradisi Bantai Adat yang mencerminkan keajaiban dari solidaritas dan kebersamaan, serta legenda manusia harimau yang mengajarkan harmoni antara manusia dan alam. Nilai-nilai harapan dan keajaiban dalam cerita-cerita tersebut terbukti masih relevan dan berfungsi sebagai penguat identitas budaya, perekat sosial, serta sarana pendidikan karakter bagi generasi muda. Penelitian ini merekomendasikan perlunya upaya dokumentasi dan revitalisasi cerita rakyat secara berkelanjutan guna menjaga kearifan lokal dari kepunahan.
CERITA RAKYAT DESA BARU MERANGIN JAMBI: SEBUAH HARAPAN DAN KEAJAIBAN DARI PELOSOK NUSANTARA
436-441
Cerita rakyat merupakan warisan budaya tak benda yang sarat akan nilai-nilai moral, sosial, dan kearifan lokal. Namun, eksistensi cerita rakyat di berbagai pelosok Nusantara, termasuk di Desa Baru, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, semakin tergerus oleh arus modernisasi sehingga berpotensi hilang tanpa terdokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan menganalisis cerita rakyat Desa Baru yang mengandung nilai-nilai harapan dan keajaiban, serta mengkaji relevansinya dengan kehidupan masyarakat kontemporer. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap lima orang informan yang terdiri dari tetua adat, tokoh masyarakat, dan generasi muda di Desa Baru, Kecamatan Tabir Lintas. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menemukan tiga cerita rakyat utama yang masih hidup di masyarakat, yakni kisah asal-usul Desa Baru yang merepresentasikan harapan di tengah keterbatasan, tradisi Bantai Adat yang mencerminkan keajaiban dari solidaritas dan kebersamaan, serta legenda manusia harimau yang mengajarkan harmoni antara manusia dan alam. Nilai-nilai harapan dan keajaiban dalam cerita-cerita tersebut terbukti masih relevan dan berfungsi sebagai penguat identitas budaya, perekat sosial, serta sarana pendidikan karakter bagi generasi muda. Penelitian ini merekomendasikan perlunya upaya dokumentasi dan revitalisasi cerita rakyat secara berkelanjutan guna menjaga kearifan lokal dari kepunahan.
ASAL USUL BATU BESAR DI DESA NGAOL: KAJIAN CERITA RAKYAT SEBAGAI WARISAN BUDAYA LOKAL
442-448
Cerita rakyat merupakan bagian dari warisan budaya lokal yang menyimpan ingatan kolektif, nilai moral, dan pandangan masyarakat terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan versi cerita asal usul Batu Besar di Desa Ngaol, mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, serta merumuskan upaya pelestariannya. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan data yang diperoleh melalui observasi, wawancara dengan tokoh masyarakat dan warga yang mengetahui cerita setempat, serta dokumentasi. Data dianalisis melalui reduksi, pengelompokan tema, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita Batu Besar berfungsi sebagai penjelas simbolis mengenai keberadaan batu di sungai sekaligus sebagai pengingat hubungan manusia dengan alam. Cerita tersebut memuat nilai pengendalian diri, penghormatan terhadap nasihat leluhur dan orang tua, kepedulian lingkungan, kebersamaan, serta tanggung jawab sosial. Pelestarian dapat dilakukan melalui dokumentasi tertulis dan digital, pemanfaatan sebagai bahan ajar muatan lokal, pelibatan tokoh adat, serta perlindungan lokasi Batu Besar sebagai bagian dari lanskap budaya desa.
PENGEMBANGAN BATIK MERANGIN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DI SEKOLAH DASAR
449-456
Penelitian ini bertujuan mengembangkan Batik Merangin sebagai media pembelajaran Seni Budaya di sekolah dasar. Fokus kajian meliputi potensi motif, nilai kearifan lokal, bentuk media, serta langkah penerapan pembelajaran. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif berbasis studi pustaka dan analisis kebutuhan awal. Data diperoleh dari jurnal Batik Merangin, pembelajaran batik, media berbasis budaya lokal, dan capaian pembelajaran Seni Rupa fase C. Hasil kajian menunjukkan bahwa Batik Merangin dapat dikembangkan menjadi media visual, lembar aktivitas, dan praktik sederhana. Media ini membantu siswa mengenal identitas daerah, memahami unsur rupa, serta melatih kreativitas secara kontekstual, aktif, aman, murah, dekat, relevan, bermakna, efektif, dan menyenangkan.
BATIK RUMAH ADAT: PERWUJUDAN PRINSIP ADAT BERSENDI SYARAK, SYARAK BERSENDI KITABULLAH DI BANGKO, JAMBI
457-465
Artikel ini mengkaji batik rumah adat di Bangko, Kabupaten Merangin, Jambi, sebagai wujud visual dari prinsip Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Penelitian ini bertujuan menguraikan keterkaitan antara bentuk arsitektur Rumah Kajang Lako/ rumah tuo atau Rumah Tuo, nilai adat Melayu Jambi, dan penyusunan motif batik sebagai sarana komunikasi budaya. Penelitian mengadopsi pendekatan kualitatif deskriptif-analitis melalui studi kepustakaan, kajian dokumen budaya, dan analisis semiotika terhadap relasi tanda visual, makna filosofis, serta konteks sosialnya. Temuan kajian mengindikasikan bahwa batik rumah adat tidak bisa dipahami sekadar sebagai ornamen kain, melainkan sebagai sistem tanda yang memuat ajaran tentang relasi manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Unsur visual seperti bentuk atap, tiang, ukiran flora, garis geometris, dan susunan komposisi menjadi representasi nilai religius, kekeluargaan, gotong royong, keseimbangan, serta keteguhan adat. Artikel ini menyimpulkan bahwa batik rumah adat Bangko berpotensi menjadi sarana pelestarian budaya, pendidikan karakter, dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal
EKSPLORASI MOTIF UKIRAN RUMAH TUO MUARA MADRAS JANGKAT DALAM PENCIPTAAN KARYA LUKIS DUA DIMENSI
466-472
Rumah Tuo Muara Madras di Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin, merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki berbagai motif ukiran khas dengan nilai estetika dan filosofi yang tinggi. Keberadaan motif-motif tersebut menjadi sumber inspirasi yang potensial dalam penciptaan karya seni rupa, khususnya lukisan dua dimensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bentuk, makna, dan nilai visual motif ukiran Rumah Tuo Muara Madras serta mengimplementasikannya ke dalam penciptaan karya lukis dua dimensi. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan eksploratif melalui observasi, dokumentasi, studi literatur, dan proses kreatif penciptaan karya. Data yang diperoleh dianalisis untuk mengidentifikasi karakteristik visual dan makna simbolik dari motif ukiran yang kemudian dijadikan dasar dalam pengembangan konsep, sketsa, hingga visualisasi karya lukis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif ukiran Rumah Tuo Muara Madras memiliki keunikan bentuk, pola, dan filosofi yang mencerminkan kehidupan masyarakat Jangkat. Eksplorasi motif tersebut menghasilkan karya lukis dua dimensi yang tidak hanya memiliki nilai estetis, tetapi juga berfungsi sebagai media pelestarian budaya lokal melalui pendekatan seni rupa kontemporer
PENGEMBANGAN SENI RUPA MOTIF RUMAH TUO RANTAU PANJANG DALAM SENI RUPA 2 DIMENSI
473-479
Rumah Tuo Muara Madras di Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin, merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki berbagai motif ukiran khas dengan nilai estetika dan filosofi yang tinggi. Keberadaan motif-motif tersebut menjadi sumber inspirasi yang potensial dalam penciptaan karya seni rupa, khususnya lukisan dua dimensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bentuk, makna, dan nilai visual motif ukiran Rumah Tuo Muara Madras serta mengimplementasikannya ke dalam penciptaan karya lukis dua dimensi. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan eksploratif melalui observasi, dokumentasi, studi literatur, dan proses kreatif penciptaan karya. Data yang diperoleh dianalisis untuk mengidentifikasi karakteristik visual dan makna simbolik dari motif ukiran yang kemudian dijadikan dasar dalam pengembangan konsep, sketsa, hingga visualisasi karya lukis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif ukiran Rumah Tuo Muara Madras memiliki keunikan bentuk, pola, dan filosofi yang mencerminkan kehidupan masyarakat Jangkat. Eksplorasi motif tersebut menghasilkan karya lukis dua dimensi yang tidak hanya memiliki nilai estetis, tetapi juga berfungsi sebagai media pelestarian budaya lokal melalui pendekatan seni rupa kontemporer.
SENI UKIR TRADISIONAL RUMAH TUO MUARO MADRAS SEBAGAI WARISAN BUDAYA MELAYU JAMBI
480-489
Penelitian ini mengkaji seni ukir tradisional pada Rumah Tuo Muaro Madras sebagai warisan budaya masyarakat Melayu Jambi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk, makna, dan nilai budaya yang terkandung dalam motif ukiran serta perannya dalam mempertahankan identitas lokal di tengah arus modernisasi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dilakukan secara langsung di Rumah Tuo Muaro Madras. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif ukiran yang terdapat pada rumah tradisional tersebut memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan nilai sosial, adat istiadat, keharmonisan, dan filosofi hidup masyarakat Melayu Jambi. Selain berfungsi sebagai elemen dekoratif, ukiran juga menjadi representasi identitas budaya dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Keberadaan seni ukir tradisional pada Rumah Tuo Muaro Madras menjadi aset budaya penting yang perlu dilestarikan melalui partisipasi masyarakat dan upaya konservasi budaya.
EKSPLORASI MOTIF BATIK DI DESA AIR BATU BUDAYA MERANGIN DALAM PEMBELAJARAN LUKISAN 2 DIMENSI DI SEKOLAH DASAR
490-495
Penelitian ini menelaah eksplorasi motif batik Desa Air Batu yang berakar pada budaya Merangin sebagai materi pembelajaran seni rupa dua dimensi di Sekolah Dasar. Fokus studi adalah pemanfaatan motif batik sebagai sumber belajar kontekstual, kreatif, dan selaras dengan kurikulum seni rupa sekolah. Pendekatan deskriptif kualitatif diterapkan melalui observasi, wawancara mendalam, serta studi dokumentasi. Temuan mengungkap bahwa motif batik efektif mengenalkan elemen visual, nilai simbolis, dan warisan budaya lokal secara langsung kepada siswa. Hasil ini membuktikan motif batik tidak sekadar ornamen estetis, melainkan media pendidikan seni berbasis kearifan lokal yang bermakna dan relevan dengan konteks pembelajaran di sekolah dasar, sehingga memperkuat identitas budaya peserta didik.
TRANSFORMASI MOTIF LUKISAN DUA DIMENSI KE BENTUK UKIRAN PADA SENI RUPA SULUR BUNGA MERANGIN
496-502
Salah satu jenis warisan budaya daerah yang memiliki nilai estetika dan mencerminkan filosofi khas masyarakat Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, adalah seni visual sulur bunga Merangin. Motif sulur bunga dapat diwujudkan dalam berbagai media seni visual, seperti lukisan dua dimensi, selain ukiran tradisional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan bagaimana motif lukisan dua dimensi diubah menjadi bentuk ukiran dalam seni visual sulur bunga Merangin serta untuk menentukan nilai visual yang tetap terjaga sepanjang proses tersebut. Pendekatan kualitatif terhadap penciptaan seni adalah metodologi penelitian yang digunakan (penelitian berbasis praktik). Observasi, dokumentasi, tinjauan pustaka, dan penyelidikan visual terhadap tema sulur bunga Merangin digunakan sebagai metode pengumpulan data. Desain pola ukiran, proses pembentukan ukiran, analisis motif pada lukisan dua dimensi, dan penilaian karya semuanya termasuk dalam tahapan penelitian. Temuan studi menunjukkan bahwa ciri visual utama, seperti garis melengkung, pola sulur, dan elemen ornamen khas Merangin, dapat dipertahankan ketika motif dari media lukisan dua dimensi diubah menjadi bentuk ukiran. Proses transformasi juga menghasilkan dimensi ruang, tekstur, dan nilai estetika yang lebih kuat. Baik pelestarian seni visual tradisional maupun kemajuan budaya lokal Merangin merupakan manfaat yang diharapkan dari perkembangan ini.
REPRESENTASI KEARIFAN LOKAL MERANGIN DALAM DESAIN MOTIF BATIK FLORA DAN LANSKAP ALAM: KAJIAN ESTETIKA DAN MAKNA SIMBOLIK
503-513
Penelitian ini mengkaji representasi kearifan lokal Merangin dalam desain motif batik berbasis flora dan lanskap alam. Objek kajian merupakan desain motif batik yang memuat bunga, daun, gelombang air, gunung, serta ornamen geometris pada bagian bingkai. Penelitian ini bertujuan menguraikan unsur estetika visual dan makna simbolik yang terkandung dalam motif tersebut. Metode yang dipakai adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis visual, estetika, dan semiotika. Data utama berupa gambar motif batik, sementara data pendukung bersumber dari literatur tentang Batik Merangin, kearifan lokal, estetika batik, dan semiotika visual. Hasil kajian mengindikasikan bahwa motif flora merefleksikan kehidupan, pertumbuhan, dan kedekatan masyarakat dengan alam. Unsur lanskap alam merefleksikan identitas geografis Merangin yang kuat dengan sungai, pegunungan, dan kawasan geopark. Ornamen geometris berfungsi sebagai pengikat komposisi sekaligus simbol keteraturan budaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa desain motif batik flora dan lanskap alam dapat menjadi media visual untuk memperkuat identitas lokal Merangin secara estetis, simbolik, dan edukatif.
MENGEMBANGKAN UKIRAN BUNGA MATAHARI RUMAH TUO RANTAU PANJANG DALAM SENI RUPA 2 DIMENSI
514-20
Salah satu warisan budaya Melayu Jambi, yaitu Rumah Tuo Rantau Panjang, memiliki berbagai ornamen ukiran dengan nilai estetik dan filosofis yang luar biasa. Tema bunga matahari, yang melambangkan kedamaian, keindahan, dan semangat kehidupan masyarakat Melayu, merupakan salah satu motif bangunan tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, upaya harus dilakukan untuk melestarikan budaya melalui bentuk visual yang semakin kreatif yang mendukung kemajuan seni visual modern. Tujuan dari penelitian ini adalah mengubah motif ukiran bunga matahari Rumah Tuo Rantau Panjang menjadi karya seni dua dimensi sambil mempertahankan nilai budaya dan kepribadiannya. Melalui tahapan investigasi, perancangan, dan realisasi karya, digunakan metode kualitatif dengan pendekatan penciptaan seni. Observasi langsung, dokumentasi, dan penelitian pustaka mengenai tema ukiran Melayu Jambi tradisional digunakan untuk mengumpulkan data. Temuan studi ini menunjukkan bahwa tema ukiran bunga matahari dapat diubah menjadi karya seni dua dimensi yang lebih imajinatif, ornamen, dan responsif terhadap tuntutan estetika modern. Evolusi ini mempertahankan elemen bentuk dasar motif dan makna simbolisnya, berfungsi sebagai media pelestarian budaya sekaligus sumber inspirasi untuk penciptaan karya seni visual yang berlandaskan pengetahuan lokal.
REPRESENTASI NILAI FILOSOFIS DALAM STRUKTUR VISUAL MOTIF UKIRAN RUMAH TUO RANTAU PANJANG, MERANGIN, JAMBI
521-529
ANALISIS DESAIN PEMBELAJARAN IPA MATERI CIRICIRI MAKHLUK HIDUP BERBASIS MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE PICTURE AND PICTURE DI KELAS III SEKOLAH DASAR
613-622
Pembelajaran IPA di sekolah dasar semestinya mengajak peserta didik mengenali gejala alam melalui pengamatan langsung, bukan sekadar menyimak penjelasan guru di depan kelas. Artikel ini mengkaji desain Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) mata pelajaran IPA kelas III sekolah dasar pada materi ciri-ciri makhluk hidup yang disusun dengan model Cooperative Learning tipe Picture and Picture. Kajian dilakukan melalui analisis dokumen terhadap komponen RPP, meliputi tujuan pembelajaran, media dan metode, tahapan kegiatan pembelajaran, serta sistem penilaian, yang kemudian dibandingkan dengan kerangka teoretis sintaks model Picture and Picture dan prinsip pembelajaran IPA bagi anak pada tahap operasional konkret. Hasil kajian menunjukkan bahwa rancangan pembelajaran tersebut telah memadukan media visual, kegiatan praktikum kelompok, dan diskusi terbimbing secara proporsional sehingga cukup sejalan dengan karakteristik belajar siswa kelas rendah. Meski demikian, ditemukan pula sejumlah celah, di antaranya rumusan indikator ketercapaian tujuan yang belum terukur secara eksplisit, sintaks pemasangan gambar yang tidak dinyatakan secara tegas dalam kegiatan inti, dan ketiadaan instrumen penilaian sikap kerja sama kelompok. Temuan ini menegaskan perlunya penyempurnaan pada aspek operasionalisasi tujuan dan kelengkapan instrumen asesmen sebelum RPP ini diujicobakan secara empiris di lapangan.
INTEGRASI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI KE DALAM MODEL PROJECT BASED LEARNING: KAJIAN KONSEPTUAL UNTUK PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR
574-583
Keberagaman karakteristik peserta didik dari segi kesiapan belajar, minat, dan profil belajar menuntut guru sekolah dasar untuk merancang pembelajaran yang lebih adaptif dibandingkan pendekatan konvensional yang bersifat seragam. Artikel ini bertujuan mengkaji secara konseptual bagaimana prinsip pembelajaran berdiferensiasi dapat diintegrasikan ke dalam sintaks model Project Based Learning (PjBL) pada jenjang sekolah dasar, dengan mengambil konteks SD Negeri 144 Merangin, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, sebagai rujukan ilustratif. Kajian ini disusun melalui pendekatan studi literatur dengan menelaah teori diferensiasi dari Tomlinson serta kerangka PjBL dari Krajcik dan Shin, kemudian memetakan lima dimensi diferensiasi konten, proses, produk, lingkungan belajar, dan asesmen ke dalam enam fase implementasi PjBL yang diadaptasi dari Buck Institute for Education. Hasil kajian menunjukkan bahwa kelima dimensi diferensiasi tersebut dapat disematkan pada setiap fase PjBL tanpa mengorbankan struktur inti model maupun standar capaian pembelajaran, mulai dari tahap perumusan pertanyaan pemandu hingga refleksi akhir proyek. Kajian ini juga menyoroti pentingnya asesmen formatif berkelanjutan sebagai instrumen pengambilan keputusan diferensiasi secara real-time. Implikasi praktis dari kajian ini adalah tersedianya kerangka acuan bagi guru sekolah dasar dalam menyusun Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang responsif terhadap keberagaman siswa, sekaligus tetap berorientasi pada pencapaian kompetensi yang setara bagi seluruh peserta didik.
PERENCANAAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI PADA MODEL COOPERATIVE LEARNING DI SD NEGERI 114 MERANGIN BANGKO
530-544
Keberagaman kemampuan awal, minat, dan gaya belajar siswa sekolah dasar menuntut guru untuk tidak memperlakukan seluruh peserta didik dengan cara yang sama dalam satu proses pembelajaran. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan sekaligus menganalisis perencanaan pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi yang dipadukan dengan model cooperative learning pada mata pelajaran IPAS kelas IV fase B dengan materi kerja sama dan gotong royong di SD Negeri 114 Merangin Bangko. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi dokumentasi terhadap rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah disusun, didukung telaah pustaka atas teori diferensiasi pembelajaran dan pembelajaran kooperatif. Hasil kajian memperlihatkan bahwa perencanaan pembelajaran menyatukan tiga bentuk diferensiasi konten, proses, dan produk ke dalam enam tahap sintaks cooperative learning, mulai dari penyampaian tujuan pembelajaran, pembentukan kelompok heterogen, penyajian materi, diskusi kelompok, presentasi hasil, hingga evaluasi dan penguatan. Diferensiasi konten diwujudkan lewat penyediaan materi bergambar bagi siswa yang membutuhkan bantuan tambahan dalam memahami konsep; diferensiasi proses ditempuh melalui variasi aktivitas pengamatan gambar, diskusi, dan tanya jawab; sementara diferensiasi produk memberi keleluasaan siswa untuk menuangkan hasil belajarnya dalam bentuk poster, rangkuman, atau presentasi lisan. Perpaduan tersebut dinilai relevan untuk mengakomodasi kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa yang beragam, sekaligus menumbuhkan keterampilan kerja sama dan tanggung jawab sosial melalui aktivitas kelompok. Kajian ini merekomendasikan agar guru sekolah dasar mempersiapkan pengelolaan kelas dan instrumen asesmen secara matang ketika hendak memadukan pendekatan berdiferensiasi dengan model pembelajaran kooperatif, mengingat kompleksitas tahapan yang harus dijalankan dalam alokasi waktu yang terbatas
INTEGRASI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DALAM MODEL PROJECT BASED LEARNING: SEBUAH KAJIAN KONSEPTUAL UNTUK PENDIDIKAN DASAR
545-553
Keberagaman karakteristik peserta didik di jenjang Sekolah Dasar menuntut adanya pendekatan pembelajaran yang lebih adaptif dan responsif. Kajian konseptual ini bertujuan mengkaji relevansi pembelajaran berdiferensiasi dalam konteks model Project Based Learning (PjBL) sebagai upaya mengoptimalkan kualitas pembelajaran di SD. Melalui analisis literatur, artikel ini menelaah konsep pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan kerangka Tomlinson (2001), yakni diferensiasi konten, proses, produk, dan lingkungan belajar, serta mengintegrasikannya dengan sintaks PjBL yang meliputi penentuan pertanyaan mendasar, perencanaan proyek, pelaksanaan, presentasi, hingga refleksi. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi kedua pendekatan ini mampu mengakomodasi perbedaan individual siswa sekaligus mendorong pengembangan keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Implikasi praktisnya terwujud dalam penyusunan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang berpusat pada peserta didik, berbasis asesmen diagnostik, dan menggunakan penilaian autentik. Artikel ini menyimpulkan bahwa integrasi pembelajaran berdiferensiasi dengan model PjBL merupakan strategi yang relevan dan potensial untuk diterapkan di Sekolah Dasar, meskipun memerlukan kompetensi pedagogik yang memadai dari guru serta dukungan institusional yang konsisten.
RANCANGAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI BERBASIS COOPERATIVE LEARNING DI SEKOLAH DASAR: KAJIAN TEORETIS DAN IMPLEMENTASI DI SD NEGERI 114/VI BANGKO
554-563
Keberagaman karakteristik peserta didik di sekolah dasar menuntut pendekatan pembelajaran yang mampu merespons perbedaan kesiapan belajar, minat, dan gaya belajar secara individual. Artikel ini bertujuan mengkaji konsep pembelajaran berdiferensiasi, karakteristik model cooperative learning, serta menyusun rancangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengintegrasikan keduanya di SD Negeri 114/VI Bangko, Kabupaten Merangin. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka yang bersumber dari literatur akademik relevan dan studi lapangan yang bersifat deskriptif-analitis. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi pembelajaran berdiferensiasi dengan model cooperative learning tipe STAD mampu mengakomodasi perbedaan kemampuan siswa sekaligus mendorong interaksi sosial yang bermakna dalam kelompok. Diferensiasi dilakukan melalui tiga dimensi, yaitu konten, proses, dan produk pembelajaran, yang disesuaikan dengan hasil asesmen diagnostik. Guru berperan sentral sebagai fasilitator, desainer, dan evaluator pembelajaran. Meskipun implementasinya menghadapi tantangan berupa keterbatasan waktu dan kompetensi guru, pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan keterlibatan aktif, keterampilan sosial, dan hasil belajar siswa. Rancangan RPP yang disajikan dapat menjadi acuan praktis bagi guru sekolah dasar dalam mewujudkan pembelajaran yang adaptif, inklusif, dan berpusat pada peserta didik.
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI MELALUI MODEL DISCOVERY LEARNING PADA MATERI BAGIAN-BAGIAN TUMBUHAN DI KELAS IV SDN 150 DESA LUBUK BUMBUN
584-593
Keberagaman karakteristik peserta didik di kelas menjadi salah satu tantangan mendasar dalam praktik pembelajaran di sekolah dasar. Artikel ini menyajikan rancangan implementasi pembelajaran berdiferensiasi yang diintegrasikan dengan model discovery learning pada materi bagian-bagian tumbuhan untuk peserta didik kelas IV SD. Pendekatan berdiferensiasi diterapkan melalui tiga dimensi utama, yakni diferensiasi konten, proses, dan produk, dengan mempertimbangkan kesiapan belajar, minat, serta profil belajar masing-masing peserta didik. Model discovery learning dipilih karena mampu mendorong peserta didik menemukan pengetahuan secara aktif melalui serangkaian tahapan sistematis mulai dari pemberian rangsangan hingga penarikan kesimpulan. Rancangan pembelajaran ini disusun untuk satu pertemuan dengan alokasi waktu 2 × 35 menit pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) Kelas IV Kurikulum Merdeka. Hasil rancangan menunjukkan bahwa integrasi kedua pendekatan ini berpotensi mengakomodasi perbedaan kemampuan peserta didik sekaligus membangun keterampilan berpikir ilmiah. Profil Pelajar Pancasila yang meliputi bernalar kritis, gotong royong, mandiri, dan kreatif dapat dikembangkan secara bersamaan melalui struktur kegiatan yang dirancang dalam RPP ini.
INTEGRASI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING: KAJIAN RANCANGAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR
603-612
Keberagaman karakteristik peserta didik di kelas merupakan tantangan nyata yang dihadapi guru sekolah dasar dalam merancang pembelajaran yang efektif. Penelitian ini bertujuan mengkaji konsep pembelajaran berdiferensiasi, menganalisis karakteristik model Problem Based Learning (PBL), serta menyusun rancangan pelaksanaan pembelajaran yang mengintegrasikan keduanya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) kelas IV di SDN 001/VI Bangko, Kabupaten Merangin. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kepustakaan dengan kajian konseptual terhadap berbagai sumber teoretis dan empiris yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi melalui penyesuaian konten, proses, dan produk mampu mengakomodasi keberagaman kesiapan, minat, dan profil belajar peserta didik. Sementara itu, model PBL terbukti efektif dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Integrasi keduanya dalam rancangan pelaksanaan pembelajaran menghasilkan desain yang adaptif dan berpusat pada peserta didik, mencakup asesmen diagnostik, pengelompokan fleksibel, serta variasi produk belajar berupa poster, presentasi, dan laporan sederhana. Temuan ini menegaskan bahwa kolaborasi antara pendekatan diferensiasi dan model PBL dapat menjadi strategi yang bermakna dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dasar.
RANCANGAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI PADA MODEL PROBLEM BASED LEARNING DI SD NEGERI 150/VI LUBUK BUMBUN KABUPATEN MERANGIN
564-573
Penelitian ini bertujuan untuk menyusun rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang mengintegrasikan pendekatan berdiferensiasi dengan model Problem Based Learning (PBL) di SD Negeri 150/VI Lubuk Bumbun Kabupaten Merangin. Pembelajaran berdiferensiasi merespons keberagaman karakteristik peserta didik melalui penyesuaian konten, proses, dan produk belajar, sedangkan PBL mendorong keterlibatan aktif siswa dalam pemecahan masalah nyata. Integrasi keduanya menghasilkan desain pembelajaran yang adaptif dan kontekstual. Metode yang digunakan adalah kajian konseptual berbasis studi literatur dengan penyusunan rancangan pembelajaran praktis. Hasilnya berupa RPP mata pelajaran IPAS dengan tema menjaga kebersihan lingkungan sekolah, yang memuat strategi diferensiasi pada tiap fase PBL, penggunaan media multisensori, serta asesmen autentik tiga dimensi. RPP ini diharapkan menjadi acuan bagi guru dalam menyelenggarakan pembelajaran yang inklusif, berpusat pada peserta didik, dan mampu mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi
INTEGRASI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DENGAN MODEL DISCOVERY LEARNING DALAM RANCANGAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN IPA DI SEKOLAH DASAR
594-602
Keberagaman karakteristik peserta didik di sekolah dasar menuntut pendekatan pembelajaran yang adaptif dan responsif. Artikel ini bertujuan mengkaji konsep pembelajaran berdiferensiasi, karakteristik model Discovery Learning, serta merancang implementasi keduanya dalam Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) IPA materi sifat-sifat cahaya di kelas IV SDN 114/VI Bangko, Kabupaten Merangin. Kajian ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan analisis deskriptif-konseptual terhadap teori-teori pedagogis yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi pembelajaran berdiferensiasi mencakup diferensiasi konten, proses, dan produk dengan tahapan sistematis model Discovery Learning mampu mengakomodasi perbedaan kesiapan, minat, dan profil belajar siswa secara optimal. Rancangan RPP yang dikembangkan memuat enam tahapan Discovery Learning yang disisipkan strategi diferensiasi pada setiap tahapnya, disertai sistem penilaian yang berorientasi pada proses. Kajian ini menegaskan bahwa kolaborasi kedua pendekatan tersebut berpotensi meningkatkan keterlibatan aktif, motivasi, serta kualitas hasil belajar siswa di sekolah dasar.
HUBUNGAN ANTARA FOREIGN DIRECT INVESTMENT (FDI), KETERBUKAAN PERDAGANGAN, DAN PERTUMBUHAN EKONOMI: SEBUAH TINJAUAN LITERATUR SISTEMATIS
623-629
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Foreign Direct Investment (FDI), keterbukaan perdagangan, dan pertumbuhan ekonomi melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Penelitian ini menggunakan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) dalam proses identifikasi, penyaringan, dan seleksi artikel. Sumber data diperoleh dari berbagai basis data ilmiah, yaitu Google Scholar, Scopus, ScienceDirect, SpringerLink, dan Emerald Insight dengan rentang publikasi tahun 2015–2026. Berdasarkan proses seleksi, diperoleh 32 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis lebih lanjut. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian menemukan bahwa FDI dan keterbukaan perdagangan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi. FDI berkontribusi melalui transfer teknologi, peningkatan produktivitas, penciptaan lapangan kerja, dan akumulasi modal. Sementara itu, keterbukaan perdagangan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui perluasan akses pasar, peningkatan efisiensi produksi, serta integrasi ekonomi global. Namun, pengaruh positif tersebut bersifat kondisional dan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kualitas institusi, modal manusia, stabilitas makroekonomi, dan perkembangan sektor keuangan. Oleh karena itu, kebijakan peningkatan investasi asing dan liberalisasi perdagangan perlu diimbangi dengan penguatan kapasitas domestik guna menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
KESENJANGAN AKSES PELATIHAN MASYARAKAT DI DESA BEDENG REJO
630-643
Kesenjangan akses pelatihan masyarakat masih menjadi salah satu permasalahan yang memengaruhi pengembangan sumber daya manusia di berbagai daerah, termasuk di Desa Bedeng Rejo. Masyarakat masih menghadapi berbagai hambatan dalam memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan yang dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan daya saing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan kesenjangan akses pelatihan masyarakat di Desa Bedeng Rejo serta dampaknya terhadap peningkatan kompetensi dan pemberdayaan masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif melalui studi literatur dan analisis berbagai sumber yang berkaitan dengan pendidikan nonformal, pelatihan masyarakat, serta kondisi sosial masyarakat pedesaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kesenjangan akses pelatihan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain keterbatasan informasi mengenai program pelatihan, kondisi ekonomi masyarakat, rendahnya tingkat pendidikan, keterbatasan sarana dan prasarana pendukung, serta akses teknologi yang belum merata. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian masyarakat belum memperoleh kesempatan yang sama untuk mengembangkan keterampilan dan meningkatkan produktivitas ekonomi. Selain itu, perkembangan teknologi digital memberikan peluang untuk memperluas akses pelatihan, namun pemanfaatannya masih terkendala oleh keterbatasan perangkat dan literasi digital masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih terintegrasi melalui peningkatan pemerataan program pelatihan, penguatan pendidikan nonformal, penyediaan infrastruktur pendukung, serta kerja sama antara pemerintah desa, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Dengan demikian, kesenjangan akses pelatihan di Desa Bedeng Rejo dapat dikurangi sehingga mampu mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
PENINGKATAN KOMPETENSI TUTOR DAN INSTRUKTUR DI KOTA BANGKO KABUPATEN MERANGIN PROVINSI JAMBI
650-655
Peningkatan kompetensi tutor dan instruktur merupakan hal yang penting dalam mendukung keberhasilan proses pembelajaran, terutama pada pendidikan nonformal seperti kursus, pelatihan, dan bimbingan belajar. Tutor dan instruktur tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga berperan sebagai pembimbing, fasilitator, motivator, dan penilai dalam kegiatan belajar. Oleh karena itu, kemampuan tutor dan instruktur perlu terus dikembangkan agar pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Penulisan ini bertujuan untuk menjelaskan pengertian kompetensi tutor dan instruktur, jenis-jenis kompetensi yang harus dimiliki, serta upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi tersebut. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan memanfaatkan berbagai sumber tertulis seperti buku, jurnal, dan artikel yang berkaitan dengan topik pembahasan. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi tutor dan instruktur dapat dilakukan melalui pelatihan, seminar, belajar mandiri, pemanfaatan teknologi, dan evaluasi berkelanjutan. Dengan kompetensi yang baik, tutor dan instruktur akan lebih mampu menciptakan proses pembelajaran yang menarik, efektif, dan sesuai dengan perkembangan zaman.
ADAPTASI DIKLAT TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL DAN EKONOMI DIGITAL DI DESA SUNGAI MANAU KECAMATAN PANGKALAN JAMBU KABUPATEN MERANGIN
656-661
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat, baik dari segi sosial maupun ekonomi. Perubahan tersebut tidak hanya terjadi di daerah perkotaan, tetapi juga mulai dirasakan oleh masyarakat pedesaan, termasuk masyarakat Desa Sungai Manau Kecamatan Pangkalan Jambu Kabupaten Merangin. Kehadiran internet, media sosial, dan berbagai platform digital telah mengubah pola komunikasi, cara memperoleh informasi, serta aktivitas ekonomi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk adaptasi pendidikan dan pelatihan (diklat) terhadap perubahan sosial dan ekonomi digital di Desa Sungai Manau. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Sungai Manau mulai memanfaatkan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk komunikasi, pendidikan, maupun kegiatan ekonomi. Adaptasi diklat dilakukan melalui pelatihan literasi digital, pemasaran digital, kewirausahaan digital, dan penggunaan media sosial sebagai sarana promosi usaha. Pelaksanaan diklat memberikan dampak positif berupa peningkatan pengetahuan, keterampilan, kepercayaan diri, dan peluang usaha masyarakat. Namun demikian, masih terdapat beberapa kendala seperti keterbatasan jaringan internet, rendahnya kemampuan digital sebagian masyarakat, serta keterbatasan sarana dan prasarana pelatihan. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara pemerintah desa, lembaga pendidikan nonformal, dan masyarakat dalam mengembangkan program diklat yang sesuai dengan kebutuhan era digital.
INTEGRASI DIKLAT DENGAN PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DESA BEDENG REJO KECAMATAN BANGKO BARAT TAHUN 2026
662-668
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana integrasi pendidikan dan pelatihan (diklat) dengan program pemberdayaan masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian masyarakat dalam mengelola potensi lokal yang dimiliki. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur (literature review) dengan mengkaji berbagai jurnal, buku, dan sumber ilmiah yang berkaitan dengan pendidikan dan pelatihan, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan sumber daya manusia. Kajian ini dikontekstualisasikan pada masyarakat Desa Bedeng Rejo, Kecamatan Bangko Barat, Kabupaten Merangin, yang memiliki potensi utama di bidang pertanian dan perkebunan, khususnya komoditas jagung, kelapa sawit, dan karet. Hasil kajian menunjukkan bahwa pelaksanaan diklat yang terintegrasi dengan program pemberdayaan masyarakat mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat partisipasi masyarakat, serta mendorong kemandirian ekonomi melalui pengembangan potensi lokal. Berbagai program pelatihan, seperti pelatihan budidaya jagung modern, penggunaan teknologi pertanian, pengolahan hasil panen, penguatan kelompok tani, dan pelatihan kewirausahaan berbasis pertanian, dapat menjadi sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat. Selain itu, budaya gotong royong dan kerja sama antarwarga yang masih kuat di Desa Bedeng Rejo menjadi faktor pendukung dalam keberhasilan program pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, integrasi pendidikan dan pelatihan dengan program pemberdayaan masyarakat dapat menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan.
PELAKSANAAN KEGIATAN KEPRAMUKAAN SEBAGAI EKSTRAKURIKULER SD NO. 280/VI BANGKO XIV GERAKAN PRAMUKA GUGUS DEPAN 039-040: MEMBANGUN GENERASI AKTIF, DISIPLIN, DAN BERKARAKTER MELALUI KEPRAMUKAAN
669-684
Artikel ini membahas pelaksanaan kegiatan kepramukaan sebagai ekstrakurikuler wajib di SD No. 280/VI Bangko XIV, Gerakan Pramuka Gugus Depan 039-040. Melalui wawancara langsung dengan pembina pramuka di sekolah tersebut, yaitu Bapak Yayan dan Ibu Rini, serta observasi lapangan dan telaah dokumentasi, diperoleh gambaran menyeluruh mengenai profil gugus depan, pelaksanaan kegiatan, peran pembina, fasilitas pendukung, sistem penilaian, kendala yang dihadapi beserta solusinya, dampak kegiatan terhadap karakter siswa, serta harapan ke depan bagi gerakan pramuka di sekolah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun sekolah ini belum memiliki prestasi pada ajang lomba kepramukaan, semangat keaktifan dan partisipasi siswa tetap terjaga dengan baik berkat konsistensi jadwal latihan dan keteladanan pembina. Kegiatan pramuka dilaksanakan setiap hari Sabtu pukul 11.00–13.30 WIB dengan program terstruktur berupa latihan rutin, Persami, Jambore, dan kegiatan di luar sekolah, didukung fasilitas yang cukup memadai serta sistem penilaian berbasis kegiatan, kehadiran, dan partisipasi siswa. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kerja sama sekolah dengan kwartir ranting serta pengembangan variasi metode latihan agar minat siswa terhadap kepramukaan terus meningkat.
PELAKSANAAN KEGIATAN KEPRAMUKAAN DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA DI SD N 200/VI TAMBANG BARU: LAPORAN HASIL OBSERVASI
685-699
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan kegiatan kepramukaan dan dampaknya terhadap pembentukan karakter siswa di SD N 200/VI Tambang Baru. Metode yang digunakan adalah observasi langsung dan wawancara dengan Ketua Pembina Pramuka, Bapak Nopi Yuandra, S.Pd. Hasil observasi menunjukkan bahwa kegiatan pramuka dilaksanakan sebagai kegiatan ekstrakurikuler pilihan yang diikuti oleh siswa kelas 4 hingga kelas 6, dengan frekuensi pertemuan sebanyak dua kali dalam sebulan, bertempat di lapangan sekolah setiap hari Sabtu. Materi yang diajarkan meliputi Morse, Semaphore, LKBB (Latihan Keterampilan Baris-Berbaris), Pionering, dan Sandi. Kegiatan pramuka terbukti berkontribusi positif terhadap pembentukan karakter siswa, khususnya dalam hal kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, dan kemandirian. Kendala utama yang ditemukan adalah adanya siswa yang sulit diatur, dan pihak sekolah merespons dengan melakukan pembinaan yang lebih intensif. Evaluasi kegiatan dilakukan secara berkala oleh pihak sekolah dan pembina pramuka setelah kegiatan berlangsung.
PELAKSANAAN KEGIATAN KEPRAMUKAAN DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER DISIPLIN DAN TANGGUNG JAWAB SISWA SEKOLAH DASAR NEGERI 220 DESA TANJUNG BENUANG
700-716
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan kegiatan kepramukaan dalam pembentukan karakter disiplin dan tanggung jawab siswa di Sekolah Dasar Negeri 220 Desa Tanjung Benuang. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara dengan kepala sekolah, pembina pramuka, dan siswa, serta dokumentasi. Aspek yang dikaji meliputi struktur organisasi kepramukaan, jadwal pelaksanaan kegiatan, kegiatan rutin dan nonrutin, sarana dan prasarana, sistem penilaian, prestasi yang diperoleh, serta kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan kepramukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan kepramukaan di Sekolah Dasar Negeri 220 Desa Tanjung Benuang dilaksanakan secara rutin sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan dan melibatkan partisipasi aktif dari pembina serta siswa. Kegiatan rutin meliputi latihan baris-berbaris, tali-temali, sandi semaphore, dan latihan kerja sama, sedangkan kegiatan nonrutin meliputi perkemahan, perlombaan kepramukaan, dan bakti sosial. Pelaksanaan kegiatan kepramukaan memberikan kontribusi positif dalam membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab siswa, yang tercermin dari meningkatnya kepatuhan terhadap tata tertib sekolah, ketepatan waktu, tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas, kemampuan bekerja sama, serta sikap kepemimpinan. Meskipun demikian, pelaksanaan kegiatan masih menghadapi beberapa kendala, seperti keterbatasan sarana dan prasarana serta tingkat partisipasi siswa yang beragam. Oleh karena itu, diperlukan dukungan yang berkelanjutan dari pihak sekolah, pembina pramuka, guru, dan orang tua agar pelaksanaan kegiatan kepramukaan dapat berjalan lebih optimal dalam membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab siswa.
PERAN KEGIATAN KEPRAMUKAAN DALAM MENINGKATKAN KEDISIPLINAN SISWA SDN 200/VI TAMBANG BARU I
717-733
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana kegiatan kepramukaan di SDN 200/VI Tambang Baru I meningkatkan disiplin siswa. Salah satu kegiatan ekstrakurikuler wajib yang dianggap berhasil dalam mengembangkan karakter siswa, khususnya disiplin, adalah kepramukaan. Metode penelitian kualitatif deskriptif digunakan, dan data dikumpulkan melalui wawancara dengan pemimpin pramuka dan observasi. Menurut temuan penelitian, kegiatan kepramukaan telah diselenggarakan dua kali sebulan pada hari Sabtu di SDN 200/VI Tambang Baru I sejak sekolah tersebut didirikan. Telah terbukti bahwa kegiatan kepramukaan, seperti LKBB, kode Morse, kepeloporan, pengkodean, dan pelatihan semafor, membantu siswa kelas empat hingga enam mengembangkan kedisiplinan. Karakter disiplin siswa dipengaruhi secara positif oleh kegiatan kepramukaan, seperti yang ditunjukkan oleh peningkatan tanggung jawab, ketepatan waktu, dan kepatuhan mereka terhadap standar sekolah.
MEMBANGUN KARAKTER SISWA MELALUI KEGIATAN KEPRAMUKAAN GUGUS DEPAN 673-674 SD NEGERI 170/VI RASAU 1
734-744
Pendidikan karakter merupakan salah satu prioritas utama dalam sistem pendidikan nasional Indonesia, terutama dalam menghadapi tantangan degradasi moral dan etika yang semakin kompleks di kalangan generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam peran kegiatan kepramukaan dalam pembentukan karakter siswa di Gugus Depan 673-674 SD Negeri 170/VI Rasau 1. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus, yang melibatkan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi sebagai instrumen pengumpulan data. Informan dalam penelitian ini meliputi guru pembina pramuka, kepala sekolah, siswa anggota pramuka, serta orang tua peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan kepramukaan secara signifikan berkontribusi terhadap penguatan nilai-nilai karakter utama, meliputi kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, kemandirian, gotong royong, dan cinta tanah air. Mekanisme pembentukan karakter berlangsung melalui pendekatan learning by doing yang terintegrasi dalam berbagai aktivitas pramuka, seperti latihan rutin, perkemahan, kegiatan bakti sosial, dan upacara kepramukaan. Penelitian ini menegaskan bahwa kepramukaan bukan sekadar ekstrakurikuler, melainkan sebuah wahana pendidikan holistik yang memperkuat fondasi karakter siswa sejak dini. Implikasi dari temuan ini mendorong perlunya penguatan kapasitas pembina, pengembangan kurikulum berbasis nilai, serta sinergi antara sekolah, keluarga, dan komunitas dalam mendukung program kepramukaan